Bukan Hanya Antraks, Penyakit Hewan Ini Juga Berbahaya Bagi Manusia

BERITAKARYA.CO.ID, CILEGON - Jika sebelumnya masyarakat lebih familiar dengan penyakit Antraks yang biasa menyerang hewan, kini diketahui ada penyakit lain yang diidap hewan yang juga berbahaya bagi manusia.
SAPI BALI: Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon saat hendak melakukan pemotongan bersyarat terhadap sapi Bali yang positif Zoonosis Brucellosis /beritakarya.co.id

Penyakit tersebut bernama Zoonosis Brucellosis sp. Hal itu terungkap dari tindakan karantina berupa pemotongan hewan bersyarat seekor sapi Bali pada Senin (11/2/2019) malam tadi di Balai karantina Pertanian Kelas II Cilegon.

Untuk diketahui, Brucellosis merupakan penyakit bakterial yang utamanya menginfeksi sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi. Di Indonesia, Brucellosis paling umum ditemukan pada ternak sapi dan sering dikenal sebagai penyakit Keluron Menular.

Penyakit ini dapat ditularkan kepada manusia atau bersifat zoonosis. Pada hewan betina, penyakit ini dicirikan oleh aborsi dan retensi plasenta, sedangkan pada jantan dapat menyebabkan orchitis dan infeksi kelenjar asesorius.

Brucellosis pada manusia dikenal sebagai undulant fever karena menyebabkan demam yang undulans atau naik-turun. Manusia bisa tertular brucellosis melalui konsumsi produk hewani terkontaminasi yang tidak dilayukan dan dimasak.

Tindakan karantina pemotongan bersyarat itu dilakukan setelah dipastikan dengan beberapa tahap pengujian laboratorium. Pada pemeriksaan Rose Bengal Test/RBT dilakukan di Laboratorium Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon dengan hasil uji positif.

Selanjutnya dilakukan pengujian Complement Fixation Test (CFT) di Balai Veteriner Subang dan Balitvet Bogor. Hasil keduanya menyatakan positif.

Sebelumnya, pada 31 Januari 2019 lalu petugas Karantina memeriksa 64 ekor sapi ras Bali asal Bekasi yang hendak dikirim ke Ogan Ilir. Setelah pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik, petugas melakukan pengambilan sampel darah 100 persen terhadap semua hewan untuk dilakukan pengujian Rose Bengal Test (RBT).

Hasil tes darah yang dilakukan itu, dari 64 ekor sapi tersebut 2 ekor dinyatakan positif RBT. 62 ekor yang negative uji kemudian diberikan sertifikat kesehatan hewan, sedangkan 2 ekor yang positif tetap dalam pengawasan petugas di Instalasi Karantina Hewan.

Sampel darah dari 2 ekor sapi positif uji RBT kemudian dikirim ke BVet Subang dan Balitvet Bogor untuk dilakukan pengujian CFT lanjutan, hasilnya diketahui bahwa 1 dari dua ekor sapi itu positif CFT.

Kepala Balai karantina Pertanian Kelas II Cilegon, Raden Nurcahyo Nugroho dalam rilis yang diterima Redaksi beritakarya.co.id menegaskan, pemotongan bersyarat dilakukan secara hati-hati dengan memperhatikan berbagai faktor seperti kemungkinan tercemarnya lingkungan harus dicegah dan dihindari.

“Tempat pemotongan harus segera dibersihkan dan disucihamakan. Perlu diperhatikan adanya cairan exudat dan sarang-sarang nekrose pada organ-organ viseralnya, dalam keadaan demikian seluruh organ visceral limfoglandula dan tulang harus dimusnahkan, sedangkan daging boleh dikonsumsi setelah dilakukan pelayuan dan dimasak,” tuturnya.

Badan Karantina Pertanian, lanjutnya, berkomitmen dan senantiasa siaga untuk memastikan komoditas hewan yang dilalulintaskan melalui tempat pemasukan dan tempat pengeluaran dilaporkan, memenuhi syarat dan terjamin kesehatannya.

Iffan Gondrong

Categories
Cilegon
No Comment

Leave a Reply

*

*

RELATED BY