Dari Teras Rumah Membuka Cakrawala Dunia

Gerakan Perpustakaan Desa dalam Menyambut Hari Anak Nasional Oleh: Nurmaeni  Octavia***
Ilustrasi/NET

Ketika wakil rakyat miris melihat angka putus sekolah di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten masih cukup tinggi dan pemerintah daerah menyerukan “jangan ada lagi anak yang tidak bersekolah,” maka saya lebih berinisiatif menggelar tikar, mengajak anak-anak tak bersekolah untuk membaca di teras rumah.

Sangat sederhana, tetapi kegiatan itu menyentuh anak-anak usia sekolah mengenal cakrawala dunia. Hanya berbekal buku-buku bacaan ringan, majalah anak, dan buku-buku pelajaran bekas, mereka tampak asik membaca, sesekali mengamati atau mengisi soal soal.

Sebut saja Imas (14), Ila (12) dan Iki (13), anak anak tetangga di kampung saya, yang tidak bisa melanjutkan sekolah ke sekolah menengah lantaran masalah ekonomi. Padahal saya pikir mereka bukan hanya terbentur oleh masalah ekonomi tetapi diusia sekolah mereka tidak tersemangati untuk belajar dan melanjutkan sekolah.

Nah, mengapa demikian? padahal kampung kami tidak jauh dari kota, sekolah menengah negeri pun dikatakan masih dekat. Hanya perlu naik ojeg atau angkutan umum jika memang memiliki niat untuk sekolah.

Saya yang senantiasa “mengintip” keseharian mereka, merasa yakin bahwa sebenarnya mereka ingin bersekolah seperti teman-teman kebanyakan. Tetapi apalah daya, mereka harus mengorbankan keinginan untuk bersekolah, mengorbankan masa kanak-kanaknya hilang begitu saja.

Lalu siapa yang salah? Orangtuakah, atau pemerintahkah?. Disini kita bukan sedang mendiskusikan siapa yang salah, tetapi  bagaimana agar harapan mereka sebagai warga Negara Indonesia yang mempunyai hak mendapatkan pendidikan dapat terwujud.

Terlebih sebagai anak, mereka juga memiliki hak mendapat pengajaran. Sesuai dengan bunyi Pasal 31 ayat (1) Undang –Undang Dasar 1945 yakni, “ Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan,”.

Pada Pasal 31 ayat (2) dinyatakan pula bahwa,” Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.”

Sebagai anak mereka berhak mendapatkan dan menerima informasi yang menunjang pengetahuannya. Sebagaimana tertuang dalam  pasal 10 Undang- Undang tentang perlindungan anak, bahwa “setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai nilai kesusilaan dan kepatutan.”

Tentu kita sebagai warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan bagi anak anak baik yang berada di perkotaan maupun pedesaan. Sebagaimana tertuang dalam Pasal 6 ayat 2 tentang undang -undang sistem pendidikan nasional, “setiap warga Negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan.”

Imas dan kawan-kawan adalah secuil potret anak-anak di Pandeglang terutama di daerah pedesaan. Kecanggihan teknologi tak membuat mereka bergeming untuk melanjutkan sekolah, pun dengan digalakkannya gerakan belajar 9 tahun, masih belum mampu mengubah pola budaya yang membuat mereka tersemangati untuk  melanjutkan sekolah.

Menurut data di Dinas Komunikasi, Informatika, Sandi dan Statistik Kabupaten Pandeglang, tingkat partisipasi sekolah di Pandeglang  pada tahun 2018 angka partisipasi sekolah (APS) Kabupaten Pandeglang untuk anak usia SD sebesar 98,76 persen.

Ini menunjukkan bahwa dari sekian banyak anak usia SD yaitu 7-12 tahun yang bersekolah mencapai 98,76 persen, sisanya sebesar 1,24 persen  dari anak usia SD tidak bersekolah, baik karena putus sekolah atau belum pernah sekolah. Sementara angka putus sekolah di kabupaten Pandeglang juga masih sangat tinggi pada tahun 2017 sebanyak 254 murid ditingkat SD dan  ditingkat SMP sebanyak 221 murid.

Lalu budaya apa yang membuat anak-anak pedesaan tak tersemangati? Ternyata budaya merasa cukup akan ilmu menjadi bagian masalah yang membuat mereka tak tersemangati. Cukup bisa baca tulis ya sudah tidak usah sekolah sampai tinggi. Bapak ibunya hanya sampai SD, anaknya juga cukup SD saja. Ditambah kurangnya kemauan untuk belajar dan kurangnya informasi orangtua tentang program sekolah gratis.

Nah..nah.., bagaimana kalo sudah seperti ini? Saya sebagai tetangga bagi anak-anak kampung tersebut merasa bertanggung jawab menyelamatkan mereka dari kebodohan. Terlebih saya sebagai ibu harus menjadi kunci penggerak bagi ibu-ibu lain dalam hal mencari ilmu.

Bukankah fadilah mencari ilmu adalah salah satu jalan menuju surga? Dan orang orang yang berjalan menuju sekolahnya, tempat-tempat mencari ilmu dimohonkan ampun oleh seluruh mahluk mahluk dibumi, begitu pun sampai ikan ikan dilaut meminta ampunan untuk para pencari ilmu.

Begitu besar keutamaan orang orang yang mau melepaskan dirinya dari kebodohan sampai sampai ikan ikan dilaut pun memintakan ampunan kepada Sang PenciptaNya.

Saya merasa perlu untuk bergerak langsung tanpa harus berpikir panjang, karena mereka butuh kita bergerak cepat, terjun langsung memberi umpan, menghidangkan dan mengawasi dengan seksama proses kegiatan anak anak yang tak melanjutkan sekolah ini.

Biarlah mereka dikenalkan kesukaannya akan membaca buku tanpa harus memaksa mereka untuk mendaftar kesekolah lanjutan. Bukankah buku juga gerbang ilmu? Dengan buku mereka tahu, dengan  buku mereka memiliki budaya baca perlahan lahan.

Karena saya pikir mengenalkan budaya baca bagi penduduk di pedesaan itu tidak semudah seperti membalikkan kedua belah tangan. Mengingat rata rata pendidikan masyarakat pedesaaan masih rendah.  Mereka lebih menyukai praktek langsung ketimbang membaca terlebih dahulu.

Sebenarnya budaya literasi pedesaan ini sedang digalakkan dari tahun ke tahun, namun ternyata itu belum cukup menyentuh masyarakat desa secara luas. Perlu usaha yang berkesinambungan agar program literasi pedesaan ini sampai menarik hati anak anak desa, terlebih para orangtuanya.

Karena saya lihat di kampung sebelah desa saya, telah dibangun perpustakaan desa, namun perpustakaan tersebut kini hanya tinggal nama saja. Tak ada lagi kegiatan membaca atau belajar. Bangunan tak terurus, pengurus dan anggotanya pun entah kemana. Sungguh sangat disayangkan! Tentu ini adalah bagian dari kemubadziran bukan?

Seorang konsultan perpustakaan nasional, Dewi Saparini yang terjun langsung ikut andil membangun perpustakaan desa dibeberapa desa di Pandeglang belum lama ini juga membuat sarana perpustakaan desa. Tetapi entah masih berjalan atau tidak, yang pasti maksud keberadaan perpustakaan desa ini  bukan saja sebagai tempat meminjam dan membaca buku, tetapi  bisa berubah menjadi tempat belajar.

Nah, sarananya pun bisa dilakukan di teras teras rumah penduduk, teras majelis taklim, kobong kobong atau surau surau yang ada di perkampungan atau fasilitas umum seperti posyandu dan poskamling, mudah bukan?

Lalu apa perlu memfungsikan kendaraan roda empat dalam mengoptimalkan peran ini? Seperti halnya kendaraan pustaka keliling yang ada di wilayah kota. Tentu tidak, menggunakan kendaraan roda dua juga bisa. Yang terpenting  niat kuat dalam rangka membangun budaya baca.

Misalnya petugas dari intansi terkait membawa buku buku menarik, sekolah setempat menyediakan waktu untuk anak anak khusus hari itu membaca buku. Di teras sekolah, atau di bawah pohon rindang sekolah bisa menjadi tempat asyik bagi anak anak untuk membuka wawasannya. Kegiatan ini bisa dilakukan seminggu sekali asal berkesinambungan.

Jangan kalah dengan abang-abang penjual buku keliling yang merambah sampai ke sekolah sekolah desa. Mereka tampak lebih gesit menggelar tikar, memajang buku buku menarik dan membiarkan siswa membaca dan memilih buku yang hendak dibelinya. Tentu siswa yang memiliki uang akan membeli, tetapi yang tidak punya hanya melihat atau sekedar membaca ulasannya saja.

Itulah mengapa gerakan pustaka desa ini perlu terus digalakkan, karena jangan heran di sekolah-sekolah desa anak umur 9-10 tahun yang duduk di kelas 3-4 SD masih banyak yang belum bisa membaca. Ini akibat dari rendahnya kebutuhan mereka akan membaca, rendahnya fasilitas baca disekolah desa dan rendahnya semangat guru dan orangtua dalam mengajarkan anak anaknya.

Untuk menumbuhkan kebutuhan anak anak dalam membaca, tentu perlu pembiasaan. Saat ini pembiasaan membaca buku non pelajaran yang diperintahkan kementrian pendidikan dan budaya nomer 23 tahun 2015 belum menyentuh ke sekolah sekolah dasar yang ada di desa pandeglang. Sehingga ini berdampak pada rendahnya minat anak anak sekolah dasar di pedesaan terhadap kegiatan membaca.

Peran perpustakaan sekolah sekolah desa pun hampir tidak bernyawa. Hampir disetiap sekolah desa tidak memiliki perpustakaan. Nah untuk mengoptimalkan peran perpustakaan sebagai pusat kegiatan belajar bagi anak anak bukan melulu harus membangun sebuah gedung lengkap dengan isinya, tetapi perpustakaan bisa didirikan diteras  rumah rumah penduduk, teras kantor desa, teras majelis majelis taklim,  atau tempat tempat fasilitas umum, seperti posyandu, poskamling. Tentunya ini perlu peran besar pemerintah dan masyarakat dalam memperkuat gerakan perpustakaan desa.

Dalam membangun budaya baca di pedesaan tidak lepas dari permasalahan yang  akan timbul. Sebagaimana yang sudah terjadi di pedesaan Kabupaten Pandeglang. Paling tidak ada langkah yang harus dibangun.

Pertama membangun budaya baca di pedesaan harus berawal dari kesadaran dari pemegang kebijakan. Pemerintah tidak setengah hati, tetapi menyeluruh dan berkesinambungan.

Kedua, jadikan bahwa program ini sangat penting. Pemerintah harus merespon cepat, terjun langsung ikut ambil bagian pada komunitas kreatif ibu ibu  atau tokoh dan kader masyarakat desa yang sudah ada. Kenapa saya pilih ibu, karena ibu adalah kunci penggerak. Ibu merupakan peletak dasar peradaban. Ibu yang cerdas akan mewariskan generasi cerdas. Ia akan mewarisi anak anak yang semangat dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilannya. Banyak hal yang bisa dilakukan ibu dalam membangun budaya literasi di rumah atau kampungnya. Tinggal budaya gotong royong di masyarakat dimanfaatkan kembali untuk kepentingan ini.

Ketiga bahan bacaan, tentu bahan bacaan ini harus tersedia. Tidak harus baru, tetapi layak, menarik dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat desa setempat. Misalnya bacaan majalah anak, buku buku tentang berternak dan bercocok tanam yang bisa manarik minat baca orangtua atau pemuda desa. Tentu ketersediaan bahan bacaan harus bersifat berkala, dalam hal ini pemerintah bisa merangkul perusahaan perusahaan yang berada diwilayah Banten.

Keempat peran serta kader kader desa sampai ke tingkat RT sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah. Dalam hal ini dibutuhkan fasilitator dari masyarakat lokal yang berperan sebagai pendamping, penyemangat dan aspiratif penggerak yang berkelanjutan. Selanjutnya semua itu tidak lepas dari niat tulus kita dalam mewujudkan generasi yang lebih baik, yang terpenting how to action and istikomah dalam mewujudkannya.

Penulis adalah ibu rumah tangga, peduli terhadap pendidikan anak di pedesaan.

Categories
Opini
No Comment

Leave a Reply

*

*

RELATED BY

  • Karakteristik Gerakan Sosial dalam Aksi Demonstrasi di Jakarta dan Hong Kong

    Demonstrasi yang bergulir di Jakarta pada akhir September 2019 lalu menjadi salah satu fenomena menarik dalam menjelaskan karakteristik gerakan sosial dewasa ini. Hal itu diawali oleh sejumlah aksi protes...
  • Mutasi yang Bikin Gaduh

    Istilah The Right Man on The Right Place hampir sejak sekolah sudah kita dengar. Dalam sistem manajemen diyakini, bahwa menempatkan pegawai di posisi yang tepat akan menjadi kunci kelancaran...
  • Infrastruktur untuk Siapa?

    Kami beserta rombongan FEB UNTIRTA baru saja kembali dari Desa Taman Jaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, setelah dua hari berinteraksi dengan masyarakat terdampak Tsunami Selat Sunda di sana. Lokasinya...
  • Pak WH, Obati Kegelisahan Kami!

    Sejak off dari panggung teater beberapa belas tahun lalu, 2018 ini saya kembali ke panggung teater. Alasannya hanya dua, kegelisahan bathin dan kerinduan dengan dunia yang sejak mahasiswa saya...