Dengan BB 20 Juta, Direktur Teknologi KS Jadi Tersangka

BERITAKARYA.CO.ID, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) menetapkan Wisnu Kuncoro alias WNU (Direktur Teknologi dan Produksi PT Krakatau Steel), Alexander Muskitta alias AMU (swasta), Kenneth Sutardja alias KSU (PT Grand Kartech) sebagai tersangka dalam kasus OTT KPK, Jumat (22/3/2019) lalu.
Wakil Ketua KPK,Saut Situmorang/NET

Sementara satu tersangka lainnya yakni pihak swasta Kurniawan Eddy Tjokro atau KET belum menyerahkan diri. WNU dan AMU diduga sebagai penerima suap sementara KSU dan KET diduga sebagai pemberi suap. Bukti uang tunai yang diamankan sebesar Rp20 juta.

Sebelumnya, KPK mengamankan enam orang mengenai dugaan suap terkait pengadaan barang dan jasa di PT Krakatau Steel tahun 2019.

Keenam orang tersebut adalah Wisnu Kuncoro (Direktur Teknologi dan Produksi PT Krakatau Steel), HTO (General Manager Blast Furnice PT Krakatau Steel), HES (General Manager Central Maintenance dan Facilities PT Krakatau Steel), Alexander Muskitta (swasta), Kenneth Sutardja (PT Grand Kartech), dan HTO (sopir).

Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang seperti dilansir tribunnews.com mengatakan, KPK menerima informasi dari masyarakat tentang akan terjadinya transaksi yang diduga suap. Berdasarkan bukti-bukti awal, KPK kemudian melakukan serangkaian penyelidikan hingga operasi tangkap tangan (OTT), Jumat (22/3/2019).

“Tim KPK mendapatkan informasi bahwa akan ada penyerahan uang dari AMU ke WNU di sebuah pusat perbelanjaaan di Bintaro. Penyerahan uang tersebut diduga berhubungan dengan pengadaan barang dan jasa PT KS,” ujar Saut dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (23/3/2019).

Setelah tim mendapatkan bukti adanya dugaan penyerahan uang, tim lalu mengamankan AMU dan WNU di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten. Dari WNU, tim mengamankan uang sebesar Rp20 juta dalam sebuah kantung kertas berwarna cokelat.

“Dari AMU, tim mengamankan sebuah buku tabungan atas nama AMU,” imbuhnya.

Masih kata Saut, secara parallel tim KPK kemudian mengamankan HTO di Wisma Baja, Kuningan, Jakarta Selatan. Setelah itu, tim pergi ke daerah Kelapa Gading untuk mengamankan KSU di rumah pribadinya dan diamankan sekitar pukul 22.30 WIB.

Ia menambahkan, tim lain pergi ke Cilegon, Banten untuk mengamankan HES di rumah pribadinya pukul 22.30. Kemudian, semuanya dibawa ke Gedung KPK.

OTT KPK terhadap WNU, Direktur Teknologi dan Produksi PT Krakatau Steel, diduga terkait pengadaan barang dan peralatan yang masing-masing bernilai Rp 24 miliar dan Rp 2,4 miliar.

Menurut Saut Situmorang, AMU diduga menawarkan beberapa rekanan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut kepada WNU dan disetujui.

“AMU menyepakati commitment fee dengan rekanan yang disetujui untuk ditunjuk, yakni PT GK (PT Group Tjokro) dan GT senilai 10 persen dari nilai kontrak. AMU diduga bertindak mewakili dan atas nama WNU,” ujar Saut.

Selanjutnya AMU meminta Rp50 juta kepada KSU dari PT GK dan Rp100 juta kepada KET dan GT. Pada 20 Maret 2019, AMU menerima cek Rp50 juta dari KET.

“AMU juga menerima uang 4 ribu dollar Amerika dan Rp45 juta di sebuah kedai kopi di Jakarta Selatan dari KSU. Uang tersebut kemudian disetorkan ke rekening AMU,” ungkapnya.

Lalu, pada Jumat 22 Maret 2019, uang sebesar Rp20 juta diserahkan oleh AMU ke WNU di kedai kopi di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten.

“Ini (Rp20 juta) bukan soal jumlah uangnya ya, tapi lebih ke nama besar perusahaanya,” ucap Saut.

Selain menyita uang senilai Rp20 juta tersebut, KPK juga mengamankan buku tabungan atas nama AMU.

Pasal yang disangkakan untuk WNU dan AMU yakni UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) KUHP. Sedangkan KSU dan KET disangkakan melanggar UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) KUHP.

Baca Sumber

Iffan Gondrong

Categories
Nasional
No Comment

Leave a Reply

*

*

RELATED BY