Digital Lifestyle atau Digital Way?

Catatan Joko Intarto

Jawaban beberapa kalimat melalui Whatsapp itu sudah cukup melegakan saya. Alhamdulillah. Gagasan saya untuk membuat forum diskusi digital lifestyle disambut baik.

Gaya hidup digital terus berkembang. Kian ngetren. Sepertinya akan mewarnai gaya hidup modern. Untuk masa kini dan masa depan.

Coba perhatikan. Begitu banyak yang sudah berubah. Akibat perubahan gaya hidup itu.

Dalam industri media, sudah berapa banyak koran dan majalah yang tumbang. Padahal media-media itu merupakan raksasa pada masa lalu. Bukan media kaleng-kaleng.

Di industri transportasi pun tidak kalah seru. Ojek pangkalan lenyap disusun ojek online. Taksi konvensional terancam taksi online.

Bisnis usaha perbelanjaan lebih dahsyat lagi. Banyak mall yang tutup. Pedagangnya pindah ke toko online dan market place.

Jasa pos sudah lama mati. Tidak ada lagi orang berkirim surat. Semua menggunakan surat elektronik.

Kantor bank dan ATM juga makin sepi. Transaksi bank mulai diganti dengan transaksi elektronik. Cukup dengan mobile banking.

Restoran juga tidak seramai dulu. Sebagian pelanggan membeli melalui jasa antar. Praktis. Tidak perlu keluar kantor atau rumah.

Shifting economy. Begitu kata para pakar. Bisnisnya sendiri tidak hilang. Metodenya saja yang berubah. Karena pengaruh teknologi informasi.

Nah, dalam proses sifting inilah, terjadi beberapa “tragedi” bisnis. Ada yang dulu pemain penting mendadak mati.

Mengapa? Proses shifting terjadi begitu cepatnya. Sementara menggerakkan organisasi tidak semudah membalik telapak tangan. Apalagi kalau organisasinya besar. Atau terlanjur gemuk.

Mendiskusikan fenomena shifting economy itu tentu saja akan sangat menarik. Maka saya iseng membuat program diskusi online. Nama sementaranya: Digital Lifestyle.

Tapi ada teman mengusulkan agar namanya diganti: Digital Way. Ada juga usulan lain: The Shifting. Saya manut saja. Mungkin Anda punya usul nama lain. Siapa tahu lebih bagus.

Salah satu orang yang merespon gagasan diskusi gaya hidup digital adalah Pak Faizal, direktur PT Telkom Tbk (Persero). Direktur bisnis digital BUMN itu sangat antusias. “Wah jos markojos itu,”jawabnya. Jawatimuran banget.

Pak Faizal memang asli Jawa Timur. Tepatnya Lumajang.

Sebelum menjabat sebagai direktur di PT Telkom, ia menjadi direktur utama PT Telkom Internasional. Lebih popolar dengan singkatan Telin.

Diskusi akan dilakukan secara interaktif. Menggunakan platform webinar. Teknisnya sedang dibahas tim kreatif Jagaters. Bagaimana caranya agar orang-orang supersibuk itu bisa hadir secara live bersama para penonton. Supaya beda dengan TV konvensional.

Ada saran?

Categories
Features
No Comment

Leave a Reply

*

*

RELATED BY

  • Semua Karena Cinta

    Cinta bukanlah kelemahlembutan atau kemurahan hati, atau apa saja dari kebaikan-kebaikan yang diberikan atau tidak diberikan dengan panjang lebar. Cinta adalah membagi, memahami, memberikan kebebasan, menjawab panggilan. Dan cinta...
  • Glyphosate Coffee

    Namanya keren ya? Jangan mudah tergoda. Sebab glyphosate atau glifosat adalah nama senyawa kimia yang beracun. Senyawa itu sekarang bikin heboh. Konon ditemukan di Kopi Gayo. Benarkah? Ini lampu...
  • Historiamu

    Ide bisnis bisa muncul di mana saja. Saat bertemu siapa saja. Mas Agus Yulianto, direktur Baitul Tamwil Muhammadiyah (BTM) datang ke studio saya, Minggu sore. Ia ingin ngopi.Merasakan seduhan...
  • Long Berry Coffee

    Mengawali Sabtu pagi dengan segelas kopi seduh V60 saringan bambu. Saya pilih long berry coffee dari Dataran Tinggi Gayo, produksi Aman Kuba, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. Aman Kuba adalah...