Haru Biru di Jumat Petang

Catatan Iffan Gondrong
PELUK HANGAT: Ratu Ati Marliati mendapatkan pelukan hangat dari keluarga/beritakarya.co.id

Cuaca panas sekali saat jiwa-jiwa yang pasrah baru saja selesai menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah SWT. Ibarat air bah yang datang seketika, begitulah jiwa-jiwa yang pasrah itu keluar dari Masjid Nurul Iman di area Puspemkot Cilegon.

Wajah mereka terlihat teduh, terlihat bercahaya karena pantulan sinar matahari. Sisa-sisa air wudhu, menambah cahaya di wajah mereka semakin kentara.

Sambil bercengkrama, mereka melangkah dan berpencar menuju ruang kerja masing-masing. Namun tidak sedikit yang segera menuju kantin untuk makan siang, dan banyak juga yang langsung ambil posisi di Kafe Keliling 44 (Kafling44).

Menikmati Kopi Gayo Aceh, nyeruput Kopi Toraja Sulawesi Selatan, atau membasahi tenggorokan dengan Kafling Ized Latte, Kafling Ube Latte dan Cappucino Ice, tentu bukan sesuatu yang salah. Justru telah memberikan dua kebahagiaan sekaligus.

Kebahagiaan pertama tentu untuk penikmat kopi itu sendiri, dan kebahagiaan kedua adalah memberi rezeki kepada Si Penjual Kopi, yang sejak pagi sudah menunggu pembeli.

Selang beberapa saat, waktu menunjukkan pukul 13.30 WIB. Secara bergelombang datang rombongan massa yang hendak menyaksikan dan memberi dukungan kepada calon Wakil Walikota Cilegon yang memasuki fase pemilihan langsung di DPRD Cilegon.

Penampilan mereka macam-macam. Ada yang tampil perlente dengan kemeja lengan panjang dan memasukkan bagian bawah kemeja ke dalam celana, ada yang berambut klimis seperti baru saja menggunakan seliter minyak rambut, ada juga yang berpenampilan eksentrik bak Wiro Sableng Sang Pendekar Kapak Maut Nagageni 212.

Kesemuanya adalah Rakyat Cilegon yang merupakan massa pendukung calon Wakil Walikota Cilegon, Ratu Ati Marliati. Kehadiran massa yang sedemikian rupa tentu bukan sebuah bentuk dukungan hyperbolic, tetapi untuk melahirkan efek glory, yang terkadang memang perlu ditampakkan.

Satu persatu mereka memesan kopi. Si Tukang Kopi dengan senyum yang terus tersungging, tentu saja sumringah melayaninya. Setidaknya, hari itu akan bergelas-gelas kopi yang terjual, sehingga bisa tembus target penjualan.

Sementara di tenda depan Gedung DPRD Cilegon, ratusan massa sudah duduk manis di kursi yang disediakan panitia. Yang tidak kebagian kursi tetap “woles” duduk bersila di atas selembar tikar atau lembaran koran.

Waktu terus bergeser. Matahari tidak bisa dinego untuk tetap berada di posisinya. Dia bergerak sesuai tugas yang sudah diembankan padanya. Sinarnya yang panas mulai meredup. Matahari menjelang senja, dan cuaca sudah mulai teduh.

Dari pengeras suara terdengar angka-angka untuk dua calon Wakil Walikota Cilegon yang sedang “bertanding”. Namun dari jauh terdengar berkali-kali “Nomor Satu” – “Ratu Ati Marliati” dan seterusnya.

Hingga hitungan terakhir, Ratu Ati Marliati tetap mendominasi suara. Ia pun berhasil “menepikan” lawannya dan tampil sebagai pemenang dengan skor 28 lawan 6.

Ruang Rapat Paripurna DPRD Cilegon sudah tampak lengang. Ratu Ati Marliati mendapatkan ucapan selamat dari para pejabat. Entah ucapan itu murni sebagai bentuk kebahagiaan atau hanya gimmick untuk mendapatkan kesan sebagai loyalis. Ah itu hanya mereka yang tahu.

Orang-orang mulai meninggalkan Ruang Rapat Paripurna DPRD Cilegon. Sementara keluarga Ratu Ati Marliati tanpa diberi komando, langsung membentuk barisan layaknya parawali yang biasa terlihat di hajatan.

Di sinilah momennya. Satu persatu, adik-adik, anak, saudara sedarah mengucapkan selamat seraya memeluk Ratu Ati Marliati. Kebahagiaan yang paripurna itu bukan dihiasi derai tawa, tetapi tangis haru.

“Selamat ya Teh” kata sang adik. “Selamat ya Mah” kata sang anak. “Selamat ya Bu” kata para kolega. Tentu dengan wajah yang mulai merona, memerah, karena menahan haru.

Sialnya, meski sudah ditahan, air mata bahagia tetap tumpah. Peluk hangat semakin menambah suasana begitu indah. Jumat petang pun mengharu biru. Tapi tak ada uforia kemenangan. Tak ada gelak tawa, yang ada hanya air mata bahagia.

Mungkin, hanya Si Tukang Kopi yang tertawa lebar sore itu. Sebab pembeli sudah berangsur pergi, sementara kotak uangnya mungkin sudah penuh terisi.(*)

Categories
Features
No Comment

Leave a Reply

*

*

RELATED BY

  • Semua Karena Cinta

    Cinta bukanlah kelemahlembutan atau kemurahan hati, atau apa saja dari kebaikan-kebaikan yang diberikan atau tidak diberikan dengan panjang lebar. Cinta adalah membagi, memahami, memberikan kebebasan, menjawab panggilan. Dan cinta...
  • Glyphosate Coffee

    Namanya keren ya? Jangan mudah tergoda. Sebab glyphosate atau glifosat adalah nama senyawa kimia yang beracun. Senyawa itu sekarang bikin heboh. Konon ditemukan di Kopi Gayo. Benarkah? Ini lampu...
  • Historiamu

    Ide bisnis bisa muncul di mana saja. Saat bertemu siapa saja. Mas Agus Yulianto, direktur Baitul Tamwil Muhammadiyah (BTM) datang ke studio saya, Minggu sore. Ia ingin ngopi.Merasakan seduhan...
  • Long Berry Coffee

    Mengawali Sabtu pagi dengan segelas kopi seduh V60 saringan bambu. Saya pilih long berry coffee dari Dataran Tinggi Gayo, produksi Aman Kuba, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. Aman Kuba adalah...