Iman Ariyadi Undercover: Pasir Laut dan Uang 35 Miliar

Catatan Iffan Gondrong
Ilustrasi/NET

Catatan kali ini sejatinya hanya mereview tulisan saya yang pernah tayang di Koran Banten Pos beberapa waktu lalu dengan judul “30 Miliar Goda Iman”. Saya berupaya mereview kembali menyusul ramainya isu rencana penyedotan pasir laut di Kota Cilegon untuk pematangan lahan PT Lotte Chemical.

Dalam catatan ini, saya menggunakan istilah “sumber berita utama” dan “pengusaha” untuk mempermudah penulisan dan pemahaman.

Suatu hari di 2011 silam, saya mendapatkan informasi yang sangat penting bahkan maha penting. Saya berfikir, informasi tersebut akan menjadi headline di koran harian tempat saya bekerja dahulu.

Bukan itu saja, saya berkeyakinan bahwa jika selesai melakukan investigasi dan wawancara, berita itu akan membuat mata masyarakat terbuka. Dan satu lagi, mungkin hanya saya yang tahu informasi tersebut.

Ya, salah seorang pejabat eselon IV di Bagian Kominfo (sekarang Dinas Kominfo, red) berbisik kepada saya bahwa ada pengusaha yang berusaha menyogok Walikota Cilgeon saat itu yakni Tb Iman Ariyadi sebesar Rp30 miliar agar sang walikota memberikan izin pengerukan pasir laut di wilayah Kota Cilegon.

Info itu begitu seksi ditengah rencana pematangan lahan bakal perusahaan join venture Indonesia-Korea Selatan yakni PT Krakatau Posco. Dengan berbagai cara saya lakukan untuk mendapatkan nomor kontak orang yang disebut pejabat Bagian Kominfo Cilegon itu.

Tidak terlalu sulit namun tidak juga mudah mendapatkan nomor kontak sumber berita utama itu. Berkat bantuan berbagai pihak, akhirnya nomor kontak yang bersangkutan sudah saya dapatkan.

Setelah mengisi pulsa dengan nominal yang cukup (agar tidak kehabisan ditengah wawancara hehe) saya pun menghubungi sumber berita utama. Layaknya sebuah liputan investigasi, saya sudah menyiapkan materi wawancara hingga teknik dan trik wawancara agar sumber berita utama mengungkapkan kebenaran terkait info yang saya dapatkan.

Dengan teknik dan trik wawancara yang sudah dipersiapkan, komunikasi melalui sambungan telepon pun berlangsung lancar, meski sebelumnya harus beradu kata-kata dan retorika. Bingo! pada bagian akhir saya pun mendapatkan informasi awal yang saya butuhkan.

Ceritanya begini, menurut sumber berita utama yang merupakan kader salah satu partai, dirinya bertemu dengan salah satu pengusaha yang berniat mendapatkan izin penyedotan pasir laut di wilayah Kota Cilegon. Si pengusaha meminta kepada sumber berita utama untuk menyampaikan niatnya terkait izin penyedotan pasir laut itu kepada Walikota Cilegon saat itu, Tb Iman Ariyadi.

Setelah itu, sumber berita utama yang juga seorang politisi itu bertemu dengan Tb Iman Ariyadi dan mengutarakan niat si pengusaha, berikut uang imbalan jika Iman Ariyadi mau memberikan izin penyedotan pasir laut. Jumlahnya cukup besar, Rp30 miliar.

Jawaban Tb Iman Ariyadi sungguh diluar ekspektasi sumber berita utama. Bagaimana tidak, Tb Iman Ariyadi menolak memberikan izin penyedotan pasir laut berikut janji uang Rp30 miliar.

Kala itu, Tb Iman Ariyadi menyatakan “nggak lah Pak, saya kasihan warga saya (nelayan, red). Selain itu pengerukan pasir laut itu bisa merusak lingkungan, ekosistem laut rusak, dan akibatnya bisa lebih parah,”.

Saya penasaran dengan apa yang diungkapkan sumber berita utama tadi. Naluri jurnalistik saya kemudian memaksan saya untuk menghubungi Tb Iman Ariyadi. Di balik gagang telepon, Tb Iman Ariyadi bertanya,

“kata siapa lo? Saya pun menjelaskan bahwa saya sudah melakukan wawancara dengan sumber berita utama.

Tb Iman Ariyadi akhirnya tidak bisa mengelak.

“Karena lo udah mendapatkan pernyataan dari sumber berita utama, maka saya tak punya alasan untuk tidak mengungkapkan semua,” kata Tb Iman membuka pembicaraan.

Tb Iman menyatakan, sebenarnya dia tidak mau mengungkapkan hal itu ke publik, karena khawatir menyakiti (menyinggung) pihak lain, atau menjadi riya. Dia mau berbagi cerita karena sumber berita utama yang memang menemuinya untuk membicarakan soal pasir laut dan uang Rp30 miliar itu sudah bicara, maka karena itulah dirinya mau berbicara.

“Nanti kalau saya yang gembar-gembor dikiranya pencitraan, riya dan lain sebagainya,” kata Iman Ariyadi kala itu.

Kepada saya, Tb Iman pun menjelaskan panjang lebar alasan mengapa dirinya tidak memberikan izin penyedotan pasir laut di wilayah Kota Cilegon. Alasan utamanya adalah bahwa masyarakat nelayan manjadi pihak yang paling merana jika ekosistem laut rusak akibat penyedotan pasir laut.

“Lingkungan akan rusak. Saya tidak mau lingkungan rusak dan merugikan warga saya khususnya para nelayan. Saya juga tidak mau jika dikemudian hari lingkungan yang rusak itu berakibat parah beupa bencana alam,” aku Tb Iman Ariyadi ketika itu.

Setelah mendapatkan penjelasan dari keduabelah pihak, akhirnya saya memutuskan untuk mengakhiri wawancara. Tiba-tiba Iman Ariyadi mengungkapkan fakta lain. Fakta tersebut adalah bahwa ada pihak lain yang juga mendatanginya dan siap memberi Rp5 miliar jika dirinya mau menandatangani izin penyedotan pasir laut di Cilegon.

Saya pun siap-siap di depan meja redaksi dan menulis berita. Judulnya pun sudah didapat, “30 Miliar Goda Iman”.  Kenapa tidak “35 Miliar? karena 30 miliar saja pun sudah cukup untuk membuat dua kamar tidur saya penuh uang.

Begitulah, suatu hari di 2011 silam.

Wallahua’lam.

Categories
Features
No Comment

Leave a Reply

*

*

RELATED BY

  • Glyphosate Coffee

    Namanya keren ya? Jangan mudah tergoda. Sebab glyphosate atau glifosat adalah nama senyawa kimia yang beracun. Senyawa itu sekarang bikin heboh. Konon ditemukan di Kopi Gayo. Benarkah? Ini lampu...
  • Historiamu

    Ide bisnis bisa muncul di mana saja. Saat bertemu siapa saja. Mas Agus Yulianto, direktur Baitul Tamwil Muhammadiyah (BTM) datang ke studio saya, Minggu sore. Ia ingin ngopi.Merasakan seduhan...
  • Long Berry Coffee

    Mengawali Sabtu pagi dengan segelas kopi seduh V60 saringan bambu. Saya pilih long berry coffee dari Dataran Tinggi Gayo, produksi Aman Kuba, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. Aman Kuba adalah...
  • Aman Kuba

    Takengon adalah kopi. Kopi adalah Gayo. Saya menikmati kopi dan humornya. Takengon dan kopi Gayo terlalu identik. Kawasan dataran tinggi Gayo di Kabupaten Aceh Tengah itu memang terkenal sebagai...