Mengharukan! Sebelum Dilantik Ratu Ati Minta Izin ke Suami dan Anak

Catatan Iffan Gondrong
KENANGAN: Ratu Ati Marliati saat mengundurkan diri sebagai Kepala Bappeda Kota Cilegon/ Dok Beritakarya.co.id

Kantor Yayasan Al-Ishlah yang selama ini menjadi kantor sementara Hj Ratu Ati Marliati pasca pengunduran dirinya sebagai Kepala Bappeda menyusul pencalonan sebagai Wakil Walikota Cilegon malam tadi tampak ramai.

Keluarga besar dan berbagai elemen masyarakat berkumpul di sana untuk melakukan persiapan pelantikan Ratu Ati Marliati di Pendopo Gubenur Banten, Selasa (31/7/2019) pukul 13.00 WIB.

Pantauan Redaksi Beritakarya.co.id di lokasi, tampak hadir Sekjen Partai Golkar Cilegon bersama para petinggi Partai Golkar Cilegon, pendekar, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan elemen lainnya. Mereka sudah berkumpul di lokasi setelah tersiar kabar bahwa SK penetapan Ratu Ati Marliati sudah ditandatangani Menteri Dalam Neger (Mendagri), Tjahyo Kumolo.

Berkumpulnya massa tanpa dikomando terlebih dahulu itu sebagai bukti bahwa Ratu Ati Marliati begitu dicintai elemen masyarakat Kota Cilegon. Sehingga saat kabar terkait SK penetapan Wakil Walikota Cilegon tersiar, masyarakat berbondong-bondong datang untuk mendengarkan kebenaran kabar tersebut sembari memberikan selamat kepada Ratu Ati Marliati.

Sejatinya, pertemuan yang digelar di samping kediaman Ibu Wali Sepuh (sebutan ibunda Ratu Ati, red) adalah pertemuan keluarga besar Alm H Tb Aat Syafaat, guna menyusun rencana keberangkatan Ratu Ati Marliati ke Pendopo Gubenur Banten untuk mengikuti prosesi pelantikan dirinya. Nyatanya, yang hadir bukan hanya keluarga inti, berbagai elemen masyarakat datang untuk mendengarkan kabar pelantikan itu langsung dari Ratu Ati Marliati.

Hingga pukul 20.00 WIB, Ratu Ati Marliati belum tiba di lokasi. Meski begitu, tak satupun warga yang beranjak. Yang ada, jumlah warga yang datang semakin banyak. Kharisma seorang Ratu Ati Marliati rupanya begitu kuat sehingga orang rela datang untuk mendengarkan penjelasan langsung darinya.

Lama ditunggu, rupanya Ratu Ati Marliati bersama suami yang biasa disapa H Nano, lebih dahulu berziarah ke makam Alm H Tb Aat Syafaat. Dari sini bisa dilihat bakti dan kecintaan seorang Ratu Ati Marliati kepada ayahandanya Tb Aat Syafaat.

“Ibunya ziara dulu tadi,” begitu kata Ratu Ati Marliati kepada Redaksi Beritakarya.co.id saat tiba di lokasi pertemuan. Sontak satu persatu keluarga dan elemen masyarakat menyalami Ratu Ati yang berjalan didampingi suami. Ucapan selamat pun mengalir dari mereka yang hadir. Tanpa membatasi diri atau mengeluh capek, Ratu Ati Marliati menyalami semua warga yang datang. Satu-persatu, tak ada yang terlewat.

Dari sisi ini, terlihat jelas bahwa Ratu Ati Marliati merupakan sosok yang ramah dan rendah hati serta egaliter. Ia tidak membatasi dirinya sebagai seorang pejabat yang harus dihormati. Tidak “sok” besar, tidak pula “sok” pejabat. Baginya, semua sama dan tak ada yang berbeda.

Sebab terkadang, ada orang yang belum berbuat apa-apa tapi sudah merasa besar, belum menjadi tetapi merasa seolah pejabat penting, bahkan kadang ada orang yang begitu semangat mendegradasi dan membunuh karakter orang, sementara ia lupa dengan dosa dan kesalahannya dan seterusnya. Seperti kata pepatah “Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak”.

Ruang pertemuan berukuran sekitar 6×12 meter sudah penuh. Para petinggi Partai Golkar, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, anggota DPRD Cilegon dai Partai Golkar dan elemen masyarakat lainnya sudah duduk di tempatnya masing-masing. Karena jumlah kursi terbatas, warga tak segan duduk di lantai untuk mendapatkan informasi penting langsung dari Ratu Ati.

Disinilah klimaksnya. Saat memberikan pernyataan, hal yang pertama diucapkan Ratu Ati adalah permohonan izin dari suami dan anak-anaknya. “Saya mohon izin kepada suami dan anak-anak saya, bahwa mulai besok saya bukan hanya milik keluarga, tetapi milik seluruh masyarakat Kota Cilegon,” kata Ratu Ati Marliati.

Selama ini, Ratu Ati Marliati memang dikenal sebagai ibu yang begitu lembut dan baik. Ia juga seoang istri yang berbakti pada suaminya. Hampir tidak ada gejolak dalam kehidupan rumah-tangganya, karena begitu taatnya dia pada suami, dan begitu perhatiannya dia terhadap anak-anak tercinta.

Izin kepada suami dan anak-anaknya itu, sekaligus menegaskan kembali bagaimana bakti seorang Ratu Ati Marliati kepada suaminya, dan bagaimana kecintaannya terhadap masyarakat Kota Cilegon. Mengharukan sekali!

Sang suami dan anak-anak Ratu Ati Marliati pun mengangguk pasti. Sebuah anggukan keikhlasan, demi melapangkan langkah ibunda untuk mengemban amanah melanjutkan perjuangan membangun Kota Cilegon. Pernyataan itu sontak membuat keluarga besar dan masyarakat yang hadir tampak berkaca-kaca matanya. Ada haru yang tiba-tiba saja menyeruak, sebab proses perjalanan untuk sebuah “SK” yang begitu panjang dan melelahkan.

Fitnah, adu domba, bahkan intrik politik dari berbagai pihak sempat mengemuka. Menghancurkan sendi-sendi kemanusiaan, mengubur hidup-hidup kesejatian sosial, hingga menebar kebencian.  Namun semua itu sirna, setelah kebenaran berpihak pada yang seharusnya menerima kebenaran itu.

“Selama 4 bulan setelah pengunduran diri saya sebagai Kepala Bappeda, banyak masyarakat yang bertanya “Bu Haji kapan dilantik, kapan dilantik? Saya hanya menjawab “Sabar, kalau Allah SWT berkehendak maka semua akan terwujud,” ungkap Ratu Ati Marliati menceritakan selama proses menunggu SK turun dari Kemendagri.

Rupanya, ucapan yang bernada doa yang keluar dari labirin hati keikhlasan itu, kini dijawab oleh Allah SWT. Semua serba cepat, serba mendadak, dan serba mengejutkan.

“Saya mendapatkan kabar hari ini Senin tanggal 30 Juli 2019 jam 16.00 WIB, bahwa SK sudah ditandatangani Mendagri. Saya kemudian mencari informasi tersebut. Kata pihak Provinsi, SK sedang diambil di Kemendagri. Jam 17.00 WIB saya mendapatkan kepastian bahwa SK memang sudah ditandatangani. Tapi saya belum tahu kapan akan dilantik. Ba’dan Maghrib, saya baru mendapatkan info bahwa Pak Gubernur Banten ditengah kesibukannya yang menggunung, telah menetapkan bahwa saya dilantik besok (selasa 31 Juli 2019) di Pendopo Gubernur Banten. Semua serba cepat. Ini semua karena kehendak Allah SWT,” ungkapnya.

Cerita Ratu Ati itu juga rupanya berpengaruh pada hadirin yang hadir. Mereka seolah tahu, proses perjalanan menunggu selama 4 bulan itu bukan sesuatu yang mudah. Hati yang hadir pun tersentuh, dan mata pun mulai berkaca-kaca. Kesabaran itu, sudah berbuah dan siap dipetik.

Diakhir pernyataannya, Ratu Ati kembali menegaskan bahwa diriny bukan manusia sempurna. Karenanya, ia minta dibimbing oleh tokoh masyarakat, tokoh politik, tokoh agama dan semua elemen masyarakat.

“Bimbinglah saya, tegurlah jika kebijakan saya tidak berpihak kepada masyarakat Cilegon. Tegurlah saya jika langkah saya jauh dari semangat perjuangan menyejahterakan masyarakat Cilegon,” tuturnya. Semua yang hadir dengan seksama mengamin apa yang disampaikan Ratu Ati Marliati.

Benar kata Kahlil Gibran dalam puisinya yang terkenal, bahwa “Orang Tak Akan Meraih Fajar, Kecuali Setelah Melalui Perjalanan Malam”. Perjalanan Ratu Ati selama empat bulan dalam ketidakpastian (gelap malam, red), kini sudah menemukan fajar. Ya, fajar itu datang di Selasa 31 Juli 2019.

Wallahua’lam

Categories
Features
No Comment

Leave a Reply

*

*

RELATED BY

  • Glyphosate Coffee

    Namanya keren ya? Jangan mudah tergoda. Sebab glyphosate atau glifosat adalah nama senyawa kimia yang beracun. Senyawa itu sekarang bikin heboh. Konon ditemukan di Kopi Gayo. Benarkah? Ini lampu...
  • Historiamu

    Ide bisnis bisa muncul di mana saja. Saat bertemu siapa saja. Mas Agus Yulianto, direktur Baitul Tamwil Muhammadiyah (BTM) datang ke studio saya, Minggu sore. Ia ingin ngopi.Merasakan seduhan...
  • Long Berry Coffee

    Mengawali Sabtu pagi dengan segelas kopi seduh V60 saringan bambu. Saya pilih long berry coffee dari Dataran Tinggi Gayo, produksi Aman Kuba, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. Aman Kuba adalah...
  • Aman Kuba

    Takengon adalah kopi. Kopi adalah Gayo. Saya menikmati kopi dan humornya. Takengon dan kopi Gayo terlalu identik. Kawasan dataran tinggi Gayo di Kabupaten Aceh Tengah itu memang terkenal sebagai...