Mutasi yang Bikin Gaduh

Catatan Iffan Gondrong
Ilustrasi/Kumparan.com/NET

Istilah The Right Man on The Right Place hampir sejak sekolah sudah kita dengar. Dalam sistem manajemen diyakini, bahwa menempatkan pegawai di posisi yang tepat akan menjadi kunci kelancaran proses kerja. Proses kerja yang lancar muaranya tentu saja pada keberhasilan laju pemerintahan atau organisasi.

Namun istilah itu, The Right Man on The Right Place tampaknya jauh dari harapan dalam proses mutasi pejabat eselon III dan IV di lingkungan Pemkot Cilegon beberapa waktu lalu. Indikatornya nyata, dimana pegawai dengan latar belakang pendidikan A, ditempatkan di dinas/badan yang jauh dari latar belakang disiplin keilmuannya.

Contoh kecil, orang dengan latar belakang bidan ditempatkan di SKPD yang mengurusi keuangan/anggaran. Ada juga pegawai dengan latar belakang komunikasi, ditempatkan di bidang perencanaan yang sejatinya jauh dari disiplin ilmunya.

Adalagi misalnya, pegawai dengan latar belakang pendidikan dan keilmuan sebagai terapis, ditempatkan membawahi perawat dan lain sebagainya. Itulah gambaran penempatan dalam mutasi dan rotasi di lingkungan Pemkot Cilegon.

Ketidakterlibatan anggota Baperjakat Kota Cilegon, menambah panjang masalah mutasi dan rotasi pejabat eselon III dan IV beberapa waktu lalu. Isu adanya permintaan sejumlah uang juga ikut mewarnai mutasi tersebut. Hal itulah yang menimbulkan kegaduhan di Kota Cilegon. Hampir setiap hari persoalan mutasi menjadi pembicaraan di tengah-tengah pegawai Pemkot Cilegon.

Salah satu pejabat eselon II yang juga anggota Baperjakat kepada Redaksi Beritakarya.co.id beberapa waktu lalu dengan gamblang mengungkapkan kekecewaannya. Ia mengaku tidak diajak bicara sama sekali, padahal dirinya adalah anggota Baperjakat.

“Saya sama sekali tidak tahu-menahu. Saya hanya diajak bicara sekali, itupun sifatnya hanya pemberitahuan bahwa akan ada mutasi. Setelah itu saya tidak tahu,” tutur pejabat eselon II yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Ada juga misalnya seorang Camat yang didampingi oleh Sekmat yang secara senioritas lebih senior. Bayangkan saja, jika atasan adalah junior bawahan, secara psikologi akan mengganggu kinerja keduanya. Persoalan senioritas memang bukan jaminan akan lebih tinggi jabatan, tetapi azas kepatutan tentu saja tetap memberi pengaruh yang tidak sederhana.

Sementara itu, terkait dengan isu adanya “sogokan” dalam proses mutasi dibantah oleh Kepala BKPP, Mahmudin. Ia menjamin tidak ada permainan uang dalam mutasi itu. Ia bahkan meminta agar siapapun yang mendengar isu itu untuk melaporkan pada dirinya.

“Isnya Allah tidak ada. Kalau memang ada silahkan tunjuk dan ungkap saja. Saya jauh dari tudingan itu. Insya Allah saya sudah cukup,” kata Mahmudin.

Dia mengaku berterima kasih jika ada bukti bahwa jajaran di BKPP yang digawanginya itu main curang. “Saya sangat berterima kasih jika ada yang mau menunjukkan siapa orang BKPP yang main uang dalam mutasi. Saya akan panggil dan akan tindak,” ujarnya.

Pada akhirnya, mutasi yang dilakukan tidak atas pertimbangan yang matang dan terukur, tentu akan melahirkan gap dan kegaduhan. Suara-suara sumbang akan terus mewarnai, yang pada akhirnya akan memengaruhi etos kerja pegawai yang bersangkutan.

Sebab hakikatnya, mutasi adalah salah satu upaya penyegaran agar pegawai terhindar dari kejenuhan kerja yang itu-itu saja. Namun jika mutasi bukan melahirkan penyegaran namun memunculkan kegaduhan dengan berbagai praduganya, maka hal itu tentu keluar dari semangat penyegaran yang seharusnya ada dalam proses mutasi.

Sampai saat saya menulis catatan ini, ada banyak WA yang masuk. Semuanya hampir berbunyi tentang kekecewaan dan ketidakpuasan dari berbagai kalangan. Mulai eselon III, IV hingga pejabat eselon II yang juga anggota Baperjakat Pemkot Cilegon.

Belum lagi dugaan “pembersihan” para loyalis mantan Walikota Cilegon, Tb Iman Ariyadi. Ada yang menyebutkan bahwa mutasi kali ini para loyalis Tb Iman Ariyadi dimutasi ke dinas/badan yang notebene “dibuang”, meskipun kebenaran dari dugaan itu perlu dibuktikan.

Wallahualam..

Categories
Opini
No Comment

Leave a Reply

*

*

RELATED BY

  • Infrastruktur untuk Siapa?

    Kami beserta rombongan FEB UNTIRTA baru saja kembali dari Desa Taman Jaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, setelah dua hari berinteraksi dengan masyarakat terdampak Tsunami Selat Sunda di sana. Lokasinya...
  • Nyaplok Jawa Pos dan Ngobok-obok PAN

    Setelah berhasil mengobok-obok dan mencaplok Jawa Pos, Goenawan Mohamad (GM) sekarang mengalihkan operasinya dengan mengobok-obok PAN (Partai Amanat Nasional). Modusnya tidak jauh beda. Dengan mengaku sebagai PAN pendiri, GM,...
  • Pak WH, Obati Kegelisahan Kami!

    Sejak off dari panggung teater beberapa belas tahun lalu, 2018 ini saya kembali ke panggung teater. Alasannya hanya dua, kegelisahan bathin dan kerinduan dengan dunia yang sejak mahasiswa saya...
  • Gagal Menjadi Wakil Rakyat

    Oleh: Dr. Ing. Rangga Galura Gumelar, M.Si* Mencermati pemberitaan pendidikan gratis di media lokal Banten, membuat hati miris, ketika Pemprov Banten berupaya meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat Banten melalui pendidkan gratis,...