Pak WH, Obati Kegelisahan Kami!

Catatan Iffan Gondrong
DISKUSI: Usai pementasan Siti Jenar di Aula UIN Banten/Foto Eky Tamamul Fikri/beritakarya.co.id

Sejak off dari panggung teater beberapa belas tahun lalu, 2018 ini saya kembali ke panggung teater. Alasannya hanya dua, kegelisahan bathin dan kerinduan dengan dunia yang sejak mahasiswa saya geluti.

Pada 2002 silam, saya kembali ke Banten dari Bandung setelah menyelesaikan bangku kuliah. Sebelum benar-benar kembali ke tanah kelahiran, ada gejolak yang bergemuruh dalam hati. Berbagai pertanyaan muncul dalam benak saya “dengan siapa nanti saya berkesenian”.

Pertanyaan itu pun segera terjawab. Dengan bantuan beberapa teman seperti Budi Wahyu Iskandar, Hanafi Gemblong, Piter Tamba, Mang Abduh, Bucek Hijazi dan nama-nama lainnya, saya mulai diperkenalkan dengan para seniman mulai dari sastrawan, perupa, pemusik, penari, yang kesemuanya adalah seniman hebat.

Saya mulai sering berdiskusi dengan Kang Toto St Radik, Mas Gola Gong, Purwo Cakwo Rubiono, Indra Kusumah, Ibnu Ps Megananda, Asep GP, Nazla Keiza, Alm Ruby Achmad Baedowi, Alm Abah Dadi, Alm Wan Anwar, Firman Venayaksa, Arif Sanjaya, Alm Nandang Aradea, Chavcay Syaefullah, Kang Gebar Sasmita, Ibu Maya Reksa Budaya, Rohendi, Mas Wowok Hesti Prabowo, Gito Waluyo, Abah Yadi,  dan nama-nama lain yang kesemuanya adalah orang-orang hebat dalam disiplin keseniannya masing-masing.

Mulailah saya mengarungi bahtera teater di Banten, dengan menyutradarai Teater Kain Hitam Gesbica UIN Banten (dulu IAIN SGD lalu berubah jadi STAIN SMHB). Bersama Purwo Cakwo, Budi Wahyu Iskandar, Hanafi Gemblong, Mang Abduh, Bucek Hijazi, Piter Tamba, Desi Me’nal, Azis Muslim, Sali Al-Fakir, Abah Yadi, Eva Zubur, Almarhumah Sri, Lebu, Rizal Fauzi, Dinar (beberapa nama saya lupa hehe), kami mulai berproses teater.

Pertunjukan perdana pun digelar. Tempatnya adalah Aula IAIN (saat itu). Aula untuk acara-acara formal itu kami sulap menjadi gedung pertunjukan. Berbekal lighting sederhana, kain hitam dan artistik sederhana lainnya, kami memainkan lakon masing-masing dengan penuh rasa tanggung jawab.

Pertunjukan yang digelar di aula itu, tentu banyak sekali hal-hal teknis yang kami hadapi. Salah satunya adalah suara kami harus dikencangkan, karena akustik aula yang memang bukan gedung pertunjukan atau gedung kesenian. Tetapi kami tetap semangat berproses, mengobati kegelisahan kami sebagai aktor teater.

Tahun ini (2018), kegelisahan saya secara pribadi sudah terjawab dengan kembali hadir di panggung teater. Tetapi kegelisahan lainnya malah semakin menjadi. Berbagai pertanyaan muncul dalam diri, “kenapa saya belum bisa main di Gedung Kesenian di Banten. Padahal, beberapa tahun lalu tuntutan kami akan gedung kesenian sudah mulai ada angin. Apakah Banten tidak punya duit untuk membangun gedung kesenian, atau para pemangku kebijakan di Banten memandang bahwa gedung kesenian tidak perlu”.

Usai beberapa kali pertunjukkan Siti Jenar di Aula UIN SMH Banten, dalam obrolan santai ditemani segelas kopi racikan #KafeKeliling, masalah gedung kesenian semakin kuat dibicarakan. Alasannya tentu saja karena pertunjukan Siti Jenar yang baru dilakukan, cukup mendapatan aprrsiasi dari masyarakat Banten. Sayangnya pertunjukan itu tidak didukung oleh artistik seperti layaknya gedung pertunjukan.

“Kita harus segera punya gedung kesenian. Gedung kesenian adalah hak masyarakat Banten yang berkebudayaan,” begitu kata sastrawan Ibnu Ps Megananda.

Dari obrolan kecil di #KafeKeliling itu, saya menangkap ada kegelisahan yang sama dirasakan oleh para seniman. Kegelisahan itu jelas, kami butuh gedung kesenian yang representatif. Kegelisahan itu tentu harus dijawab oleh Pemprov Banten. Karenanya, saya berharap agar Pak WH mengobati kegelisahan kami, dengan membangun gedung kesenian.(**)

Categories
Opini
No Comment

Leave a Reply

*

*

RELATED BY

  • Karakteristik Gerakan Sosial dalam Aksi Demonstrasi di Jakarta dan Hong Kong

    Demonstrasi yang bergulir di Jakarta pada akhir September 2019 lalu menjadi salah satu fenomena menarik dalam menjelaskan karakteristik gerakan sosial dewasa ini. Hal itu diawali oleh sejumlah aksi protes...
  • Dari Teras Rumah Membuka Cakrawala Dunia

    Ketika wakil rakyat miris melihat angka putus sekolah di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten masih cukup tinggi dan pemerintah daerah menyerukan “jangan ada lagi anak yang tidak bersekolah,” maka saya...
  • Mutasi yang Bikin Gaduh

    Istilah The Right Man on The Right Place hampir sejak sekolah sudah kita dengar. Dalam sistem manajemen diyakini, bahwa menempatkan pegawai di posisi yang tepat akan menjadi kunci kelancaran...
  • Infrastruktur untuk Siapa?

    Kami beserta rombongan FEB UNTIRTA baru saja kembali dari Desa Taman Jaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, setelah dua hari berinteraksi dengan masyarakat terdampak Tsunami Selat Sunda di sana. Lokasinya...