Pamit…..

BERITAKARYA.CO.ID, CILEGON - Aula Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Cilegon, Selasa (2/4/2019) tampak berbeda. Di dinding aula, terpampang sebuah tulisan, Untukmu Ibu, Kami dan Semuanya. Para staf hingga Office Boy (OB) berbaur jadi satu dalam satu ruangan. Suasananya pun agak syahdu, kebanyakan dari mereka menunduk.
PAMIT: Ratu Ati Marliati meninggalkan Kantor Bappeda CIlegon usai menyerahkan kunci mobil dinas kepada Plt Sekretaris Bappeda/beritakarya.co.id

Bukan tanpa alasan kenapa hari itu seluruh penghuni Kantor Bappeda tampak murung. Sebab, hari itu adalah hari terakhir bagi Kepala Bappeda Kota Cilegon, Ratu Ati Marliati ngantor. Birokrat tulen itu diusung oleh Partai Golkar dan koalisi untuk maju sebagai calon Wakil Walikota untuk mendampingi Edi Ariadi.

Keputusan Ratu Ati Marliati untuk mundur sebagai ASN di lingkungan Pemerintah Kota Cilegon bukan perkara mudah. Karir puluhan tahun yang dirintis mulai bawah sebagai guru SMP di Carenang, Kabupaten Serang, hingga menduduki posisi sebagai Kepala Bappeda dan Plt Sekda beberapa waktu lalu, harus ditinggalkan.

Padahal, karir Ratu Ati Marliati sebagai PNS masih panjang. Sisa 10 tahun lagi untuk memasuki masa pensiun. Namun, Ratu Ati Marliati rela melepas itu semua demi memenuhi panggilan masyarakat sebagai calon Wakil Walikota Cilegon.

“Saya memulai karir dari bawah. Sebagai guru di SMPN Carenang belasan tahun lalu. Kini, saat jabatan sedang di atas, semua harus saya lepaskan. Saya tanggalkan status PNS saya, karena diusung partai politik sebagai Wakil Walikota Cilegon untuk mendampingi Pak Walikota (Edi Ariadi, red),” tuturnya.

Bukan hanya seragam dan jabatan yang harus Ratu Ati Marliati tanggalkan. Berbagai fasilitas sebagai pejabat daerah dia kembalikan ke pemda. “Hari ini resmi saya mundur dari PNS. Saya serahkan mobil dinas kepada pemerintah daerah,” kata Ratu Ati Marliati, secara menyerahkan mobil dinas kepada Plt Sekretaris Bappeda, Ahmad Jubaedi.

Ratu Ati Marliati juga rela melepaskan posisi sebagai Komisaris Utama PT PCM dan segala fasilitas yang melekat pada jabatannya di PT PCM. “Insya Allah saya ikhlas. Semua fasilitas yang saya terima sudah saya lepas,” ungkapnya.

Suasana dalam Aula Bappeda pun makin syahdu. Kepala-kepala yang hadir terlihat merunduk. Entah apa yang ada dalam benak mereka. Yang mereka tahu bahwa mulai hari itu Ratu Ati Marliati bukan lagi PNS dan bukan lagi Kepala Bappeda.

Dua perwakilan pegawai Bappeda mengungkapkan perasaan mereka. Keduanya menilai bahwa Ratu Ati Marliati adalah sosok kepala dinas yang teguh pendirian, pantang lelah dan pantang menyerah.

“Ibu Ratu Ati Marliati adalah panutan dan soko guru kami. Semangat Ibu menjadi inspirasi bagi kami,” kata Feri, salah satu pegawai Bappeda. Dia bahkan membacakan sebuah puisi untuk melepas Ratu Ati Maliati.

Pada bagian akhir, seluruh pejabat eselon III dan IV serta staf Bappeda hingga cleaning service dan OB pun menyalami Ratu Ati Marliati. Meski berat hati, mereka rela melepas kepergian ratu Ati Marliati meninggalkan Kantor Bappeda.

Pelukan hangat dan tangisan haru tak terbendung lagi. Tangisan dan pelukan khususnya dari pegawai wanita yang tanpa rekayasa itu begitu alamiah. Mereka memeluk Ratu Ati Marliati dengan air mata yang turun membasahi pipi.

“Bu, Ibu seperti ibu kami. Seperti orangtua kami. Jagalah kesehatan, dan kami semua berdoa untuk kesuksesan Ibu dimanapun Ibu bertugas. Satu harapan kami Bu, jangan lupakan kami. Tengoklah kami anak-anak Ibu di Bappeda,” kata salah satu staf Bappeda seraya memeluk erat Ratu Ati Marliati.

Setelah mendapatkan salam perpisahan, Ratu Ati Marliati pun pamit pergi. Saat meninggalkan ruangan, para pegawai Bappeda kembali membuat pagar betis, melepas mantan atasa mereka hingga ke pintu utama. Ratu Ati Marliati kemudian naik mobil Kijang warna hitam, sementara mobil dinas A 15 R ditinggal karena sudah diserahkan kepada pemerintah.

Iffan Gondrong

Categories
Cilegon
No Comment

Leave a Reply

*

*

RELATED BY