Panggil Aku Rangga

Cerpen Iffan Gondrong
Ilustrasi/NET

Malam baru saja beranjak pergi saat Jane selesai membaca setengah dari isi diary yang tampak sudah usang itu. Matanya sesekali melihat diary yang ada di tangannya, lalu memeluknya dengan penuh perasaan.

“Ya Allah, seperti inikah beban rasa yang harus aku tanggung? Tak adakah cara untuk memutar waktu, agar aku bisa menahannya agar tidak pergi?” kata Jane lirih dengan bibir yang tampak bergetar.

Bibir yang sejatinya selalu melemparkan senyum itu, kini tak seindah sebelumnya. Pesonanya tiba-tiba saja hilang oleh duka yang teramat dalam. Getar kedua bibir Jane seakan mewakili rasa yang begitu perih.

Suara lembut yang mirip ratapan itu memang terdengar lirih. Ada beban dan rasa yang teramat perih dalam untaian kalimat yang dia ucapkan.

Jane beranjak ke bagian belakang rumah. Dia menuju kamar mandi untuk wudlu dan Solat Subuh. Setelah selesai solat, ia lalu meneruskan membaca meski matanya semakin sembab.
_________**_________

Pagi itu, Jane sedang berjalan menuju ruang kuliah bersama teman-temannya. Sebagai mahasiswi semester V Jurusan Sastra Inggris, Jane memang sangat populer di kalangan mahasiswa. Hampir separuh mahasiswa penduduk kampus terpesona oleh pancaran kecantikan wanita berdarah Sunda-Turki itu.

Tutur katanya yang sopan dengan bibir yang selalu tersenyum, membuat siapa saja ingin berlama-lama berbincang dengannya. Kecantikan yang lahir dari dalam Jane-lah membuatnya menjadi bintang. Ukuran body yang proporsional, semakin menambah pesona seorang Jane.  Sosok wanita ideal, begitulah kata banyak mahasiswa menilai kecantikan dan keanggunannya.

Namun hingga memasuki tahun ketiga masa kuliah, belum ada satupun mahasiswa yang bisa menundukkan hati Jane. Ungkapan suka dan cinta datang silih berganti, namun sejauh ini Jane belum membuka hatinya untuk lelaki.

“Aku menghargai keberanianmu mengungkapkan perasaan cinta itu, tetapi mohon maaf, aku belum bisa,” begitu kata Jane saat ada mahasiswa yang mengungkapkan rasa cintanya.

“Akan lebih indah kalau kita berteman saja,” kata Jane lagi, sambil tetap tersenyum. Dia berusaha agar si lelaki tidak kecewa dan membencinya ketika cintanya ditolak.
_________**_________

Di lorong Fakultas Sastra yang menghubungkan dua fakultas lainnya, para mahasiswa sedang asyik berdiskusi dan ngobrol ngalor-ngidul tentang apa saja. Tempat itu memang menjadi titik favorit para mahasiswa untuk kongkow, sebab tak jauh dari lorong itu ada kantin kampus yang menjajakan makanan serta minuman, pas untuk ukuran kantong mahasiswa.

Jane yang duduk di antara dua teman sekelasnya ikut sibuk dalam perbincangan khas mahasiswa. Tak jarang ia menerima “godaan” para mahasiswa yang sekedar ingin bertegur sapa. Ada yang sopan, ada juga yang menjengkelkan. Namun Jane tetap tersenyum.

Digoda sedemikian rupa, menjadi makanannya sehari-hari. Dia tak heran dengan keadaan itu. Makin sering digoda, makin ia mengerti tentang sosok seorang lelaki.

Di salah satu sudut ruang yang tak begitu ramai, duduk seorang mahasiswa berambut gondrong sebahu, jeans belel dan ada asesoris di pergelangan tagannya. Tidak seperti mahasiswa lainnya yang sibuk mengoda mahasiswi, lelaki itu malah sibuk dengan buku yang ada di pangkuannya. Dia seperti menikmati kata dan kalimat dalam buku yang sedang ia baca.

Sesekali matanya memandang ke arah lorong dimana mahasiswa lain yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Namun sejurus kemudian matanya kembali ke ribuan huruf yang tertera di buku. Dia lalu tenggelam dalam bacaannya itu. Cowok cool, begitulah kira-kira gambarannya.

Jane yang sedang bercengkrama dengan teman-temannya sekilas melihat si cowok sok cool itu. Ujung matanya berkali-kali melirik lelaki berambut gondrong dengan hidung lumayan mancung itu. Namun, si cowok cool itu seakan tak acuh, meski ujung matanya pun melihat sorot mata Jane ke arahnya.

Sejenak kemudian, si cowok cool itu beranjak. Dia berjalan ke arah lorong tepat dimana Jane dan teman-temannya sedang berkumpul. Matanya tetap ke buku. Sama sekali dia tidak menghiraukan mahasiswi yang dia lewati. Cuek saja.

“Asyik sekali sih dia dengan bukunya. Penasaran, buku apa sih,” kata Jane dalam hati. Sekilas dia membaca judul buku itu “Arya Panangsang”.

“Siapa sih tuh cowok, perasaan baru ngeliat hari ini,” kata Jane lagi, masih tetap dalam hati.
__________**__________

“Panggil aku Rangga,” begitu kata lelaki gondrong sebahu dengan jeans yang sudah belel itu ketika berkenalan dengan Jane di depan fakultas.

“Aku Jane,” kata Jane seraya keduanya bersalaman.

Rangga adalah mahasiswa semester akhir di Fakultas Sastra, sama dengan Jane. Tetapi dia jarang masuk kuliah dua tahun terakhir karena aktivitasnya sebagai relawan bancana. Setiap ada bencana di negeri ini, Rangga selalu mengambil peran. Tak peduli medan dan keadaannya berat, Rangga selalu ada di depan.

“Kakak kok jarang kelihatan ya, emang kemana kok gak pernah kuliah,” begitu kata Jane mencoba mencairkan suasana. Maklum, Rangga tidak berbicara lagi setelah memperkenalkan dirinya.

“Jangan panggil kakak, panggil aku Rangga,” kata dia mengulangi. Dia lalu bercerita seadanya tentang kegiatannya selama ini. Cuek dan datar-datar saja. Tak ada sedikitpun upaya untuk membuat Jane tertarik.

“Semua kisahku, aku tulis di diary. Agak kuno memang di era digital ini, tetapi itulah kebiasaanku, bercerita kepada diary,” katanya berusaha menutup obrolan, lalu nyelonong pamit pergi.

Sikap cuek Rangga membuat Jean makin penasaran. “Sombong banget sih nih cowok. Bener-bener nyebelin,” kata Jane dalam hati.
____________**___________

Sejak pertemuan tak sengaja di depan fakultas itu, Jane terus terbayang sosok Rangga, cowok sok cool itu. Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan hatinya. Cowok menyebalkan itu terus saja mengganggu ruang fikirnya, pagi, siang bahkan malam.

“Gak mungkin, gak mungkin aku suka sama cowok urakan sok cool itu,” kata dia bergumam.

Sekuat tenaga Jane membuang bayang-bayang Rangga yang seolah terus menari-nari di dalam benaknya. Namun semakin kuat pula rasa penasaran dirinya terhadap sosok Rangga.

Jauh di titik lain, Rangga diam-diam memuji pesona yang keluar dari sosok Jane. Perjumpaan dan obrolan singkat yang tidak disengaja itu seolah menyadarkan dirinya bahwa ia selama ini telalu sibuk dengan dunianya, sehingga tidak kenal cewek secantik dan semenarik Jane.

“Ah, percuma saja mikirin tuh cewek, mana mungkin dia mau sama aku,” katanya membatin.

Malam itu. Jane dan Rangga sama-sama tenggelam dalam dugaan-dugaan yang sulit dimengerti. Rembulan seakan tahu dengan apa yang mereka rasakan. Dia pun berusaha untuk bersinar sedemikian indah, seolah berharap bisa menjadi bagian dari skenario pergulatan bathin dua anak manusia itu.
____________**______________

Jane hanya bisa diam melepas kepergian Rangga tanpa mampu untuk mencegahnya. Jiwa sebagai relawan bencana, tak bisa dihalangi oleh siapapun termasuk dirinya.

Dalam proses perjalanan, Jane dan Rangga memang akhirnya sepakat untuk menjalin kasih. Tekad Rangga yang ingin segera meminangnya, membuat Jane mengakui bahwa hatinya luluh oleh cowok urakan sok cool tapi ganteng dan menarik itu.

“Aku menghormati orang yang mengungkapkan perasaanya, tapi aku lebih menghargai lelaki yang mau memberikan kepastian*,” begitu kata Jane ketika Rangga mengungkapkan cintanya dan segera akan meminangnya.

“Dan kebahagiaan adalah bertemunya harapan dan kenyataan,” kata Jane lagi sesaat sebelum melepas Rangga pergi.

“Simpanlah diary ini. Segala kisahku, termasuk rasa yang tersembunyi untukmu sudah kuungkapkan dalam diary. Mudah-mudahan bisa menemanimu selama aku pergi. Aku berjanji pasti kembali dan segera menikahimu,” kata Rangga seraya menyerahkan diary miliknya kepada Jane.

_____________**_____________

Tangis Jane pecah. Ia tak mampu lagi membendung air mata yang tumpah. Sepanjang malam dia membaca diary Rangga. Makin dalam membaca, makin hancur perasaannya. Mimpinya sirna, hatinya hancur berkeping-keping. Jane merasa separuh jiwanya ikut pergi, melayang-layang di udara, entah kapan akan kembali.

“Andai saja aku bisa menahannya, mungkin Rangga tidak secepat ini,” katanya seraya kembali membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di diary.

Kau adalah bidadari…..

Aku tak pernah melihat keindahan dari sosok wanita sepertimu. Senyummu mengalahkan indahnya cahaya rembulan. Bahkan matahari seolah padam, digulung oleh pesona yang keluar dari kecantikan dan kedamaian bathinnya.

Aku baru sadar, bahwa sosok wanita yang selama ini aku dambakan ada dalam dirimu.

Beruntunglah aku telah mendapatkannya. Terima kasih tuhan, telah kau kirimkan bidadari yang menjelma sebagai Jane.

Aku akan menjaganya, mencintainya dan membangunkan istana kebahagiaan untuknya.

Jane….. sudah kuwakafkan diriku untuk kemanusiaan, dan jika tiba saatnya aku harus pergi maka relakanlah kepergianku.

Aku pasti akan kembali, meski dalam nuansa yang berbeda. Sebab aku adalah Rangga yang mencintaimu sebesar dunia. ______Rangga

Jane memeluk diary itu. Ibarat bah, air matanya tumpah. Istana kebahagiaan yang dijanjikan Rangga sirna, setelah dia kembali hanya meninggalkan jasadnya. Rangga pergi menyusul takdirnya.

*Kutipan dalam buku Arya Panangsang

Categories
Cerpen
No Comment

Leave a Reply

*

*

RELATED BY

  • The Journalist

    ”Ada kerusuhan”, begitu kata pesan yang dikirimkan seorang kawan. Sony pun langsung tancap gas, dengan tujuan TKP kerusuhan yang dimaksud. Padahal, kopi hangat yang disediakan istrinya pagi itu, belumlah...