Semua Karena Cinta

Catatan Iffan Gondrong
INDAH: Pemandangan alam bawah laut Pulau Sangiang/Dok beritakarya.co.id

Cinta bukanlah kelemahlembutan atau kemurahan hati, atau apa saja dari kebaikan-kebaikan yang diberikan atau tidak diberikan dengan panjang lebar.

Cinta adalah membagi, memahami, memberikan kebebasan, menjawab panggilan. Dan cinta adalah kehidupan. [Kahlil Gibran]

Tiba-tiba saja saya teringat dengan sepenggal syair tentang cinta, sebuah mahakarya Kahlil Gibran, seorang penyair dengan penjualan terbaik ketiga setelah Shakespeare dan Lao-Tzu. Pesan tentang cinta ini begitu kuat mengisi ruang pikir saya, sesaat setelah berdiskusi dengan orang-orang yang begitu ikhlas memberikan cintanya untuk alam bawah laut Banten.

Temaran lampu-lampu bohlam yang tergantung secara acak namun sarat estetika, semakin indah dengan segelas kopi hangat buatan barista Traffic Cafe yang berlokasi di area ASA Sport Center Kota Cilegon.

Obrolan dengan Ketua POSSI Cilegon, Irfan Ali Hakim ditemani trio ganteng Ferry “Mucho” Muchdiana, Meirdian “Dian” Herlambang, dan Aldo Agoes sungguh telah mampu memainkan irama cinta dalam benak saya.

Sayang, legenda hidup free divers yang sudah memiliki jam nyelam tanpa alat bantu ratusan jam, Rama Agustiawan tidak jadi nimbrung karena kesibukannya yang menggunung. Kesemua nama yang saya sebut tadi adalah para pengurus Pengcab POSSI Kota Cilegon.

Note: tentang perjalanan legenda hidup free divers Rama Agustiawan akan saya kupas diedisi berikutnya.

Obrolan dimulai dengan mengupas musibah hilangnya tiga penyelam asal Tiongkok di Pulau Sangiang. Ibarat kata, Pulau Sangiang adalah rumah kedua bagi Ferry, Dian, Aldo dan Rama. Sebagian hidup mereka mungkin sudah dihabiskan untuk menikmati, menjaga dan melestarikan keindahan alam bawah laut Pulau Sangiang yang memesona.

Alam bawah laut Pulau Sangiang, Kabupaten Serang, Banten/Dok beritakarya.co.id

Diskusi soal peristiwa kemanusiaan di Pulau Sangiang malam tadi seakan sejalan dengan obrolan dua malam sebelumnya di tempat yang sama. Saat itu pada Sabtu malam, Dian mengungkapkan kegelisahannya dengan potensi alam bawah laut Pulau Sangiang yang belum tereksplorasi dengan baik, belum dipetakan, belum dipromosikan dan lain sebagainya.

Baca: 3 Penyelam Tiongkok Hilang di Sangiang, Ini Saran Penyelam Cilegon

Padahal, alam bawah laut Pulau Sangiang sangat menakjubkan. Hamparan terumbu karang berbagai jenis ada di sana. Ribuan ikan menari di antara karang-karang yang bergoyang dimainkan arus, dan keindahan lain yang tentu saja sulit digambarkan, kecuali datang dan menyaksikannya langsung. Keindahan itu bahkan diakui oleh para penyelam yang pernah menikmati keindahan di sana.

Kegelisahan Dian itu adalah buah cinta yang keluar dari labirin hatinya. Meskipun cara saya menuturkannya terlalu hiperbolic, tetapi nyatanya memang begitu. Dian yang merupakan penyelam yang telah memeroleh lisensi dari Professional Association of Diving Instructor (PADI) tingkat rescue diver itu begitu dalam mengemukakan perasaannya.

Ia mengaku iri dengan daerah wisata bahari lain seperti Pulau Pahawang, yang sudah sedemikian rapih tertata dan terjaga. Titik-titik spot karang yang indah sudah terdata, jenis ikan dan terumbu karangnya tercatat, bahkan waktu dan kendala yang ada di laut juga tertulis dengan sangat detail.

Karena dorongan cinta yang kuat dalam dirinya itu, Dian dan beberapa teman berniat memetakan Pulau Sangiang, sehingga apapun yang ada di bawah laut pulau eksotis itu tercatat dan terdata. Muaranya tentu saja untuk membantu dunia pariwisata bahari di Banten.

“Pulau Sangiang itu sangat indah alam bawah lautnya. Tapi sayang, belum ada pemetaan yang sedikit banyaknya bisa menjadi panduan bagi para penyelam yang akan datang kesana,” tuturnya.

Ketua POSSI Cilegon, Irfan Ali Hakim manggut-manggut. Meski tak ada kata yang terucap, ia mengamini apa yang disampaikan penyelam profesional itu. Semangat Dian dan teman-temannya untuk melakukan pemetaan yang kedepan bisa menjadi guiden bagi siapapun yang akan menyelam disana.

“Bayangkan, di Pulau Sangiang itu ada banyak spot yang bisa dinikmati dan punya nilai jual bagi dunia pariwisata. Namun belum ada yang melakukan pemetaan. Misalnya begini, saat di titik A terjadi down current atau up current  dimana arus akan mendorong kita tidak hanya sejajar dengan dasar tetapi ke atas atau ke bawah, maka harus ada alternatif spot lain. Dan itu tentu butuh pemetaan,” kata Dian.

Ketua POSSI Cilegon, Irfan Ali Hakim pun kemudian mendorong agar pemetaan Pulau Sangiang yang sangat bermanfaat bagi dunia pariwisata bahari Banten itu dilakukan. Ia berharap pihak-pihak yang terkait bisa memberi ruang bagi niat baik dan bukti cinta Dian dan kawan-kawan terhadap dunia pariwisata bahari Banten.

Ya… begitulah cinta. Seperti kata Kahlil Gibran, Cinta adalah membagi, memahami, memberikan kebebasan, menjawab panggilan. Sebab cinta adalah kehidupan.**

Categories
Features
No Comment

Leave a Reply

*

*

google.com, pub-1102232992410596, DIRECT, f08c47fec0942fa0

RELATED BY

  • Glyphosate Coffee

    Namanya keren ya? Jangan mudah tergoda. Sebab glyphosate atau glifosat adalah nama senyawa kimia yang beracun. Senyawa itu sekarang bikin heboh. Konon ditemukan di Kopi Gayo. Benarkah? Ini lampu...
  • Historiamu

    Ide bisnis bisa muncul di mana saja. Saat bertemu siapa saja. Mas Agus Yulianto, direktur Baitul Tamwil Muhammadiyah (BTM) datang ke studio saya, Minggu sore. Ia ingin ngopi.Merasakan seduhan...
  • Long Berry Coffee

    Mengawali Sabtu pagi dengan segelas kopi seduh V60 saringan bambu. Saya pilih long berry coffee dari Dataran Tinggi Gayo, produksi Aman Kuba, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. Aman Kuba adalah...
  • Aman Kuba

    Takengon adalah kopi. Kopi adalah Gayo. Saya menikmati kopi dan humornya. Takengon dan kopi Gayo terlalu identik. Kawasan dataran tinggi Gayo di Kabupaten Aceh Tengah itu memang terkenal sebagai...