Tafta Zani dan Peresmian Kafe

Catatan Iffan Gondrong
CALON ANGGOTA DPD RI BANTEN: Tafta Zani saat berkunjung ke Kafe Keliling 44/beritakarya.co.id

“Kebahagiaan adalah bertemunya harapan dan kenyataan”.  Itu adalah nukilan ungkapan istri Arya Panangsang dari novel Arya Panangsang yang saya baca beberapa waktu lalu.

Tetapi….. catatan ini bukan untuk bercerita tentang sejarah Arya Panangsang, yang banyak versinya, bahkan ada yang menduga sejarahnya dibelokkan. Tetapi hanya untuk mengungkapkan kebahagiaan melalui nukilan itu agar terlihat sedikit intelek hehehe.

Ya, sejak “berhijrah” dari rutinitas harian yang sudah dilakoni belasan tahun ke sebuah rutinitas baru sebagai Barista (peracik kopi di Kafe Keliling 44), ingin sekali rasanya saya pamer sedikit kemampuan meracik kopi manual brewing, melukis dengan Latte Art, mengolah tenaga dengan membuat Espresso, Americano dan Cappucino kepada kolega salah satunya Ka Tafta Zani.

Ada kerinduan tersendiri yang saya rasakan dari sosok Ka Tafta Zani. (Saya menyebutnya Ka Tafta karena bagi saya beliau masih terlalu muda untuk disebut bapak. Setidaknya energy beliau tak pernah tua hehe).

Kerinduan yang sudah mengembara sejak tiga bulan silam itu saya pendam. Sesekali saya colek Ka Tafta Zani di medsos, dan memintanya untuk datang sekedar menikmati kopi racikan Barista baru. Namun, colekan itu hanya dijawab “mantaf” atau “gampang itu dinda”.

Saya tentu harus maklum. Kesibukannya tidak memungkinkan untuk segera datang ke Kafe Keliling 44, apalagi beliau masuk salah satu calon Anggota DPD RI Banten nomor urut 44. Tentu kesibukannya bertambah, meskipun rasanya kesibukan utamanya adalah menulis kisah-kisah jenaka di laman Facebook-nya.

Rupanya, Allah SWT memang sudah menetapkan bahwa Ka Tafta Zani harus menikmati kopi Arabica Single Origin Kafe Keliling 44. Buktinya, tanpa harus saya colek lagi (setelah tiga bulan silam), ada moment yang mempertemukan saya dengan beliau.

Moment pertemuan pun ditakdirkan dalam sebuah acara rakyat yakni kondangan. Sebagai calon Anggota DPD RI, Ka Tafta Zani hadir dengan kesederhanaan yang sederhana, dan kesalehan yang sedikit samar namun tetap kentara.

Pendek kata, saya memantaafkan pertemuan itu untuk mengajak Ka Tafta Zani mampir di Kafe Keliling 44, sekaligus meresmikan secara simbolik angka 44 di belakang nama Kafe Keliling. Dan saatnya pun tiba.

Inilah mengapa saya mengutip kalimat sakral istri Arya Panangsang  bahwa “Kebahagiaan adalah bertemunya harapan dan kenyataan”.  Harapan saya untuk dikunjungi Ka Tafta Zani terwujud. Dan harapan itu sudah menjadi kenyataan.

Sebagai seorang intelek, obrolan Ka Tafta Zani yang disimak dengan seksama oleh saya, Irfan Ali Hakim dan beberapa sahabat seperti Rizal, Asep, Adim, Ole, Uki dan dua mahasiswa UIN Banten, Afrizal dan Silmi sangat jauh dari kata membosankan.

Setiap ucapan yang terlontar dari Ka Tafta Zani, melebihi quotes para pemikir yang kerap menghiasi media baik cetak maupun elektronik. Kemampuan retorikanya sontak membuat kami tertawa.

Salah satu quotes yang saya ingat adalah bahwa hijrah saya menjadi Barista Kafe Keliling 44 bukan hijrah sederhana, tetapi hijrah intelektual. Sebab, dalam sejarahnya kafe adalah salah satu tempat bertemunya orang-orang pintar untuk berdiskusi, bahkan melahirkan ide-ide cerdas hingga sebuah revolusi seperti yang terjadi di Prancis.

Quotes itu jelas membuat saya tersanjung. Meskipun saya tahu bahwa ungkapan itu sekedar untuk memagari agar saya tidak patah semangat memulai usaha dari sebuah kafe kecil di atas motor roda tiga.

Sesaat kemudian, Ka Tafta Zani nyeruput kopi Bali Kintamani, sebagai tanda diresmikannya nama 44 di belakang nama Kafe Keliling. Sebuah peresmian tanpa uforia dan jauh dari gemuruh yang kadang cenderung hyperbolic.

“Kafe Keliling itu bukan identitas, tetapi hanya sebuah model kafe saja. Untuk memiliki identitas, harus jelas poin-nya. Nah, saya sahkan untuk menggunakan nama Kafe Keliling 44,” kata calon Anggota DPD RI Nomor Urut 44 itu seraya diiringi derai tawa kami semua.

Sebuah pertemuan sakral. Sesakral ungkapan hati istri Arya Panangsan bahwa kebahagiaan adalah bertemunya harapan dan kenyataan.

Terima kasih Ka Tafta Zani. Kapan-kapan mampir lagi, mencicipi Kopi Susu Signature, Coco Americano, Cappucino, Latte with Art, dan menu lainnya di Kafe Keliling 44.

 

Categories
Features
No Comment

Leave a Reply

*

*

RELATED BY

  • Glyphosate Coffee

    Namanya keren ya? Jangan mudah tergoda. Sebab glyphosate atau glifosat adalah nama senyawa kimia yang beracun. Senyawa itu sekarang bikin heboh. Konon ditemukan di Kopi Gayo. Benarkah? Ini lampu...
  • Historiamu

    Ide bisnis bisa muncul di mana saja. Saat bertemu siapa saja. Mas Agus Yulianto, direktur Baitul Tamwil Muhammadiyah (BTM) datang ke studio saya, Minggu sore. Ia ingin ngopi.Merasakan seduhan...
  • Long Berry Coffee

    Mengawali Sabtu pagi dengan segelas kopi seduh V60 saringan bambu. Saya pilih long berry coffee dari Dataran Tinggi Gayo, produksi Aman Kuba, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. Aman Kuba adalah...
  • Aman Kuba

    Takengon adalah kopi. Kopi adalah Gayo. Saya menikmati kopi dan humornya. Takengon dan kopi Gayo terlalu identik. Kawasan dataran tinggi Gayo di Kabupaten Aceh Tengah itu memang terkenal sebagai...