The Journalist

Cerpen Iffan Gondrong
Ilustrasi/NET

”Ada kerusuhan”, begitu kata pesan yang dikirimkan seorang kawan.

Sony pun langsung tancap gas, dengan tujuan TKP kerusuhan yang dimaksud. Padahal, kopi hangat yang disediakan istrinya pagi itu, belumlah dia habiskan.

Sang istri yang tengah membuat nasi goreng untuk sang suami di dapur, hanya menarik nafas saat suaminya itu buru-buru pamit karena panggilan tugas sebagai seorang jurnalis.

”Hmmm, sarapan saja belum, dia sudah keburu pergi. Mudah-mudahan Allah senantiasa menjaga suamiku,” kata sang istri dalam hati.

Di TKP, Sony terperangah melihat massa yang jumlahnya ribuan mengamuk. Mereka merusak apa saja, dan melemparkan apa saja ke arah aparat keamanan.

Ketegangan terjadi antara massa dan aparat. Saling dorong, saling lempar, dan akhirnya saling pukul. Sony dan wartawan lain yang melakukan kerja liputan, terus mencoba mengambil angle gambar untuk dijepret.

Tak diduga, sebuah batu sebesar kepalan tangan orang dewasa yang entah dilemparkan oleh siapa, tepat mengenai kepala Sony yang sedang berusaha mengabil gambar dengan kamera miliknya.

Sony tersungkur, darah segar langsung mengucur ke wajahnya. Kamera kesayangan yang setiap hari menemaninya jatuh di atas bebatuan kerikil yang tajam. Pecah!!!

Kawan-kawan seprofesi langsung mengevakuasi Sony yang tak sadarkan diri. Bahu membahu mereka mencoba menolongnya. Ada yang sibuk membersihkan darah di wajah Sony, ada yang sibuk mencari obat merah, ada juga yang berinisiatif menghubungi rumah sakit minta dikirim ambulance.

Sejurus kemudian, dari kejauhan terdengar raungan mobil ambulance mendekat. Suaranya menyayat hati. Massa yang makin tak terkendali masih terus mengamuk.

Sony yang belum sadarkan diri dibopong dan dimasukan ke dalam ambulance. Darah masih mengalir. Beberapa rekan tampak gelisah melihat keadaan itu. Ambulance pergi, beberapa rekan seprofesi duduk mengapit Sony.

Tiba-tiba, suara HP berbunyi. Rekan-rekan Sony sibuk mencari dimana sumber suara itu. Ternyata dari dalam saku celana milik sang jurnalis.

Seorang rekan mencoba mengambil HP yang terselip di saku celana bagian kanan Sony. Sebuah pesan singkat yang masuk rupanya. Sang rekan membaca pesan singkat tersebut. Tak sadar, dia malah meneteskan air mata.

Rekan lainnya heran melihat perilaku sang rekan itu. Salah seorang d iantara mereka mengambil HP Sony dari tangan rekannya itu.

”Yah, jangan lupa makan ya. Nanti sakit lagi. Eh yah, tadi ada PLN nagih listrik, udah dua bulan belum bayar. Terus tadi juga ada dua orang dari BTN datang, rumah kita mau disemprot. Sama dua bulan belum bayar. Gimana dong,”
Begitu isi pesan singkat yang dikirimkan sang istri.

Rekan-rekan Sony terhenyak hanya bisa mengelus dada. Diantara mereka mungkin merasakan hal yang sama dengan Sony yang belum sadarkan diri. (*)

Cerpen ini ditulis beberapa tahun lalu.

Categories
Cerpen
No Comment

Leave a Reply

*

*

RELATED BY

  • Panggil Aku Rangga

    Malam baru saja beranjak pergi saat Jane selesai membaca setengah dari isi diary yang tampak sudah usang itu. Matanya sesekali melihat diary yang ada di tangannya, lalu memeluknya dengan...