Aku dan Kehidupan Anak Kost

Penulis: Anissa, Mahasiswa Untirta Jurusan Ekonomi Syariah...
Anissa

Transisi kehidupan terasa begitu cepat. Beban yang harus dipikul pun terasa semakin berat. Setelah lulus  SMK, aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negri yang tentunya jauh dari rumah.

Aku sangat antusias memilih kampus di luar kota. Pikirku saat itu, hidup sebagai anak rantau yang jauh dari orangtua akan sangat mengasikkan, karena bisa bebas ngapain aja tanpa kena omel kalau pulang malem, bisa main sama temen kapanpun, atau bangun kesiangan tanpa kena marah. Pokoknya bebas. Begitulah yang ada di pikiranku saat itu, rasanya ingin cepat-cepat masuk kuliah dan tinggal sebagai anak kost.

Anak kost adalah julukan bagi seseorang yang tinggal di sebuah kamar dengan membayar sejumlah uang sewa, biasanya perbulan atau pertahun. Anak kost juga dituntut untuk hidup mandiri. Itulah kehidupan yang aku alami saat ini.

Semua yang dulu terasa mudah dan menyenangkan, ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Jauh dari orangtua, berarti harus mengerjakan segala sesuatu sendirian. Pekerjaaan rumah yang tadinya sangat jarang kulakukan, kini aku harus terbiasa melakukannya sendiri. Seperti mencuci baju, memasak, menyetrika dan  banyak hal lain yang biasa dikerjakan ibuku, kini harus kukerjakan sendiri.

Belum lagi membagi waktu antara pekerjaan rumah, tugas kuliah yang menumpuk, serta berbagai aktivitas kampus seperti organinasi yang membuat ku semakin sibuk. Hal yang paling menjengkelkan yaitu saat pulang kampus dengan otak dan badan yang lelah, aku harus dihadapkan dengan rice cooker yang kosong dan tidak ada makanan. Rasanya ingin langsung pulang ke rumah.

Dulu waktu SMK, pulang sekolah capek dan laper tinggal makan masakan ibuku. Sekarang, mau makan harus masak atau beli ke warteg. Itupun dengan itung-itungan yang sangat hati-hati karena masih banyak keperluan lain dan khawatir bekal uang ku tidak cukup.

Menjadi seorang anak kost juga menuntutku untuk pandai mengatur keuangan. Dengan berbagai strategi, aku harus mampu membagi uang bulanan dari orangtua untuk berbagai macam keperluan. Mulai untuk makan sehari-hari, keperluan pribadi, uang untuk bayar kost, uang buku, uang print tugas, uang kas, ditambah lagi uang yang harus kusisihkan untuk main dengan teman-teman kelas.

Sebab, meskipun hanya nongkrong biasa, tetap saja aku harus mengeluarkan uang untuk membeli minuman atau makanan. Ini yang paling berat menurutku. Sebab sampai sekarang aku masih sering keteteran di akhir bulan, karena kebiasaan buruk yang belum bisa kutinggalkan yaitu boros.

Sering kali saat masuk minimarket, toko buku atau tempat perbelanjaan lainnya, aku kadang lupa akan statusku sebagai anak kost yang harus mengirit. Walhasil, di hari berikutnya aku akan kehabisan uang sebelum waktunya.

Gaya hidup juga sangat berpengaruh dalam menjalani kehidupan sebagai anak kost. Jika terbiasa hidup hedon atau konsumtif di rumah, maka akan sulit menyesuaikan dengan keadaaan yang 27derajat sangat berbeda ketika menjadi anak kost.

Memang butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan baru yang semuanya diatur sendiri. Selain harus pintar mengelola keuangan, anak kost juga harus kuat mental dan teguh pendirian karena akan ada masa dimana kita merasa lelah dan jenuh dengan kemelut kehidupan serba sendiri.

Kalau tidak kuat, bisa-bisa langsung pulang ke rumah dan gak mau balik lagi ke kostan. Biasanya, ujian mental ini datang diawal kita menjalani kehidupan sebagai anak kost.

Anak kost juga harus kuat menahan rasa kangen. Kangen dibangunin ibu, masakan ibu, nonton tv bareng orangtua, bahkan bertengkar dengan adik. Ini sering aku rasakan. Meskipun sudah hampir satu tahun menjalani kehidupan sebagai anak kost, tetap saja aku sering meneteskan air mata saat mengingat keluarga di rumah atau  saat menelpon mereka.

Sebagai seorang perempuan yang jauh dari orangtua, aku juga dihadapkan dengan berbagai macam godaan yang cukup berat. Karena anak kost sangat identik dengan kebebasan, maka aku harus pandai memilih teman dan pergaulan. Sedikit saja melenceng, aku akan terjerumus ke dalam hal-hal yang negative.

Peran lingkungan dan motivasi dari keluarga sangat penting dalam hal ini. Didikan orangtua sejak aku masih duduk di bangku sekolah sangat membantuku membentengi diri. Bisa saja aku melakukan hal-hal negatif tanpa orangtuaku mengetahuinya. Tapi aku bersyukur dibekali ilmu agama hingga aku tidak sanggup mendekati hal-hal yang berbau negatif.

Tak sedikit teman-teman atau anak seusiaku yang terjerumus ke dalam lingkungan yang begitu mengerikan menurutku. Mulai dari pergaulan bebas, minum-minuman beralkohol, bahkan mengkonsumsi obat-obat terlarang.

Karena memang usiaku saat ini adalah usia yang sangat rentan terbawa pengaruh buruk. Karena itulah aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk hal-hal yang positif di kampus seperti berorganisasi.

Banyak organisasi yang aku ikuti dan membawa dampak yang poitif dalam kehidupanku, aku menjadi lebih produktif.

Dengan segudang aktivitas yang aku lakukan, tentunya aku juga perlu menjaga kesehatan agar bisa menjalani aktivitas dnegan baik. Tapi kembali lagi dengan persoalan anak kost yang low budget, aku sering lupa dengan pola makan yang sehat.

Aku hanya makan makanan yang aku temui dan sangat jarang mengkonsumsi buah dan sayur apalagi berolahraga. Hal yang paling aku takuti yaitu “sakit”. Sakit tanpa ada yang merawat adalah satu hal yang sangat menakutkan.

Hal yang paling membahagiakan seorang anak rantau tak lain dan tak bukan yaitu pulang ke rumah. Rasanya semua keluh kesah selama berada di perantauan hilang semua. Sudah terbayang masakan ibu yang begitu lezat, suara ayah yang lembut dan kenakalan adik yang kadang menjengkelkan. Semuanya terasa sangat menyenangkan. Hal itu yang membuatku tidak sabar ingin segera pulang.

Menjadi anak kost memang sangat berat tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Banyak hal-hal positif yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang. Menjadi anak kost juga ajang untuk melatih emosi, kedisiplinan, kemandirian dan kegigihan kita. Pepatah mengatakan berakit-rakit dahulu berenang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.**

**Tulisan lepas ini merupakan latihan para peserta pelatihan jurnalistik Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untirta.

Categories
Kampus

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

RELATED BY

%d blogger menyukai ini: