Dana CSR Vs Sosok Ghoib Berinisial M

Catatan Iffan Gondrong
Status Facebook Mas Mulyana/NET

Hampir sepekan terakhir wall Facebook saya penuh dengan gonjang-ganjing dana Ce Es Er (CSR) PT Seven Gates Indonesia (SGI) yang sedang melaksanakan pekerjaan di PT Lotte Chemical di Cilegon.

Dana itu ada yang menyebut dana CSR ada juga yang bilang bahwa itu adalah dana kompensasi. Tapi apapun itu, intinya ada dana segar.

Dalam catatan Facebook yang beberapa kali diunggah warga Cilegon mengisyaratkan kekecewaan warga di tiga kelurahan yaitu Kelurahan Warnasari, Kelurahan Rawa Arum, dan Kelurahan Gerem, Kota Cilegon, Banten.

Gonjang-ganjing dana Ce Es Er itu dimulai dari kekecewaan masyarakat Warnasari yang merasa bahwa tidak ada transparansi dana sosial dari perusahaan, hingga kekecewaan mereka karena haknya diabaikan.

Konon, dana CSR itu sudah diserahkan oleh pihak perusahaan, tetapi tidak nyampe ke masyarakat yang berhak menerimanya. Dana itu diterima oleh seseorang yang “ghoib”.

Saya terus mengikuti keluhan warga yang disampaikan melalui media sosial itu. Pada akhirnya, perlahan namun pasti sosok “ghoib” penerima dana CSR pun mulai naik ke permukaan. Sosok “ghoib” itu berinisial M.

Walah…. Ini masalah baru buat saya. Sebab ada ribuan orang di Kota Cilegon yang berinisial M. Telalu sulit untuk menyimpulkan siapa sosok “ghoib” berinisial M itu.

Kalau inisial M itu merujuk pada nama Mahmud, saya teringat seorang sahabat ketika ngampus dulu. Nama lengkapnya Mahmud Madaul, seorang aktivis kampus berasal dari Ambon. Karenanya, ia sering dipanggil Nyong oleh teman-teman di kampus.

Mahmud Madaul saya akui sebagai salah satu mentor saya dalam berganisasi baik di internal kampus maupun di luar kampus. Mahmud Madul jugalah yang “menjerumuskan” saya hingga akhirnya saya terpilih sebagai Sekjen Dewan Mahasiswa Universitas Islam Nusantara, Bandung tahun 1999 silam.

Sebenarnya ada banyak mentor organisasi saya di kampus selain Mahmud Madaul. Tetapi saya hanya mau membahas Bang Mahmud karena sosok “ghoib” yang dibahas berinisial M. Tapi saya pastikan bukan dia sosok “ghoib” itu, sebab Bang Mahmud berdomisili di Ambon.

Pikiran saya terus melayang mencari jawaban. Tiba-tiba saja saya ingat seorang kawan yang juga berinisial M. Maman, begitulah namanya.

Saya biasa memanggilnya Kang Maman. Dia adalah penyiar radio senior yang pernah menakhodai Banten FM.

Kiprahnya di dunia radio sudah tidak bisa diragukan lagi. Puluhan tahun melanglang buana di dunia radio, mengantarkan Kang Maman sampai di bumi Banten.

Tapi lagi-lagi akal sehat saya menjawab, bahwa sosok “ghoib” berinisial M itu pasti bukan Kang Maman, sebab sampai saat ini ia masih sibuk dengan dunia entertain dan menjadi konsultan radio.

Ah…. saya mulai putus asa mencari jawaban. Bola mata saya berputar, otak berfikir keras, tetapi belum juga menemukan jawaban.

Senyum saya tiba-tiba mengembang. Saya ingat seorang kawan yang juga berinisial M. Nama lengkapnya yang saya tahu adalah Mas Mulyana.

Setahun terakhir, Mas Mulyana adalah teman diskusi saya di Alun-alun Kota Cilegon. Kontraktor sekaligus aktivis Karang Taruna ini merupakan sosok yang enak diajak bicara. Obrolannya pun fokus, tidak ngayayay.

Tapi dahi saya berkerut seketika. Mas Mulyana tentu bukan sosok “ghoib” berinisial M itu. Sebab dialah yang selama ini memenuhi wall Facebook saya dan mengutuk habis sosok “ghoib” yang menurutnya tamak dan mementingkan diri sendiri itu.

Saya pun kembali lemas. Mencari jawaban sosok “ghoib” berinisial M yang konon sudah memakan dana CSR itu ternyata tidak mudah.

Dalam situasi yang galau itu, saya kemudian berfikir lebih baik bertanya langsung kepada Kang Mul, sebab saya yakin dia tahu siapa sesungguhnya sosok “ghoib” pemakan dana CSR itu.

Jawaban dari pertanyaan saya mungkin akan terjawab esok. Atau mungkin Anda tahu siapa sosok berinisial M itu? Ah sudahlah. Sekarang saya mau ngopi dulu.*

Categories
Opini

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

RELATED BY

%d blogger menyukai ini: