Ikhlas, Tapi Tak Seikhlas Itu

Oleh Silvia Qowiyu Martin...
Silvia Qowiyu Martin

3 Mei 2019. Hari itu, hari dimana duniaku hancur berkeping-keping. Jika tuhan mengabulkan satu permintaanku pada hari itu, ingin rasanya aku tenggelam di dalam lautan biru yang tak ada ujungnya itu.

Mengapa aku senekat itu? Sebab satu nama yang membuat duniaku selalu berwarna-warni kini hanya menorehkan satu warna saja, yaitu hitam.

Hari itu memang seperti hari-hari biasanya. Matahari selalu menampakkan batang hidungnya di ufuk timur. Aku membuka jendela kamarku, seketika cahaya matahari langsung meyerang wajah gembilku, tak lupa deru angin berhembus hangat di wajahku, membuat beberapa helai rambutku bergoyang.

Dering notifikasi HP milikku berbunyi, itu tandanya ada pesan yang masuk. Seketika bibirku tersenyum membaca nama yang tertera di HP-ku, nama yang menghiasi hari-hariku belakangan ini. Ucapan selamat pagi menjadi ucapan yang selalu ia lontarkan di setiap pagiku. Sederhana, namun penuh makna.

Setelah membalas pesan darinya, aku bergegas menuju dapur, aroma masakan ibu berhasil menggelitik indra penciumanku. Ah memang, masakan ibu itu tiada duanya.

Sehabis sarapan yang bisa dibilang sarapan kesiangan itu, aku langsung memanjakan diriku dengan bermain bersama gemericik air di bilik kamar mandi. Di hari itu aku mempunyai rencana untuk pergi ke bank, mengurus rekening bersama kakak keduaku. Kakak yang terkadang terlihat menyebalkan dimataku.

Setelah semuanya beres, aku dan kakakku pun berangkat. Saat itu awan putih bergumpal, matahari sangat terik. Tetapi itu semua tidak menghalangiku untuk menyelesaikan misiku hari itu. Oh iya, tak lupa aku juga meminta izin kepada “ia” bahwa aku akan pergi ke bank bersama kakakku. Tentu saja ia mengizinkannya.

Ia memang bukan tipe lelaki yang over protective kepadaku, asal aku bisa menjaga diri katanya. Lontaran kata demi kata tercipta di room chat antara aku dengan dirinya, namun seperti ada yang aneh. Untaian kata yang kaku dan dingin menghiasi di dalamnya, tapi sayangnya aku tak menyadari itu semua.

Bagiku, bagaimanapun sikapnya selalu membuat hatiku hangat. Di dalam room chat tersebut ia mengatakan bahwa ia akan mengajak diriku main sehabis maghrib. Oh tentu saja aku menyangkalnya, mengatakan bahwa ia berbohong sebab akhir-akhir ini banyak masalah yang datang menghampiri hubungan kita berdua.

Namun perkiraanku salah, di hari itu ia benar-benar datang mengajakku main. Deru mesin motor berhenti tepat di depan rumahku. Motor matic warna merah itu telah terpakir sempurna di halaman rumahku, motor yang menjadi saksi bisu kita berdua untuk mengelilingi kota dimana kita merajut kasih.

Setelah ia izin kepada kedua orangtuaku untuk mengajakku pergi main, akhirnya kami berangkat. Ah, sikapnya yang santun itu juga menjadi salah satu sikap yang membuat aku selalu diperlakukan layaknya puteri keraton.

Waktu demi waktu telah kami lewati, namun semua terasa hambar. Sikapnya yang tiba-tiba dingin dan kaku membuat aku jengkel bukan main. Semua pertanyaan yang aku lontarkan hanya ia jawab sesingkat mungkin. Akhirnya aku meminta ia untuk mengantarkanku pulang saja, aku tak ingin menambah moodku semakin turun.

Di perjalanan ia berusaha untuk menanyakan mengapa aku diam dan tak secerewet biasanya. Aku pun tetap dengan pedirianku, bungkam. Emosi telah menguasai diriku.

Sesampainya di rumahku, ia mengatakan kalimat yang membuat duniaku seakan runtuh. Jika kalian menduga bahwa kami putus, tepat sekali. Ia mengakhiri hubungan ini. Kami usai. Bak disambar petir, aku tak sanggup menopang tubuhku sendiri.

Lututku terasa lemas, bibir mungilku yang biasanya mengeluarkan ribuan kata setiap harinya kini seakan terkunci, air mata pun turut menghiasi pipiku. Rasanya seperti dihujam ribuan belati. Bagaimana tidak? Seseorang yang biasanya membuatmu bahagia tak ada batasnya itu kini telah menyakitimu jiwamu.

Ia mengatakan bahwa ia tak bisa meneruskan hubungan ini, karena terhalang restu ibundanya. Ia tak diizinkan menjalin hubungan intens dengan wanita manapun. Sakit sekali rasanya ketika mendengar pernyataan tersebut. Pernyataan yang benar-benar tak terpikirkan dibenakku.

Malam itu menjadi malam terakhir kami sebagai dua insan yang merajut kasih. Ia memeluk tubuhku untuk terakhir kali sebagai kekasihnya serta mengusap air mataku yang terus mengucur. Ia tersenyum, senyuman palsu yang membuat hatiku berdenyut nyeri.

Malam itu ia berusaha menguatkanku, ia bilang kita tetap akan menjadi teman. Tahu apa yang paling menyakitkan dari kandasnya hubungan ini? Ketika aku dan dirinya dipaksa untuk ikhlas menerima kenyataan, padahal nyatanya masih saling mencintai. Tahu darimana ia masih mencintaiku? Jelas saja, ia mengatakan bahwa ia masih dan tetap mencintaiku.

Ah sudahlah, bagaimanapun semesta memang sedang tidak berpihak kepada kita berdua. Setelah kondisiku yang terbilang cukup mendingan dari sebelumnya, ia pamit untuk pulang, membawa segenap rasa yang harus dimatikan.

Setelah ini, tak ada lagi cerita yang harus ditulis diantara kita berdua. Kita dalam kondisi yang sama, sama-sama dipaksa untuk ikhlas.

Malam ini menjadi malam yang aku ingat dalam sejarah hidupku. Malam ini adalah titik awal dimana aku mencoba untuk ikhlas. Mungkin aku akan ikhlas nantinya, tapi tak seikhlas itu.

Tak ada salahnya kan mencoba dahulu? Yakinlah, apa yang telah tuhan berikan dalam hidup kita pasti ada hikmah yang dapat kita ambil di dalamnya. Jadi, buat kalian yang masih dibelenggu oleh masa lalu, semangat! Aku tahu berat, aku tahu sulit, aku pun pernah merasakannya. Tetapi dibalik itu semua kita dapat memaknai berbagai hal. Dan sekarang, aku telah mengerti makna keikhlasan sesungguhnya.**

**Tulisan ini merupakan latihan para peserta pelatihan jurnalistik Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untirta

Categories
CerpenKampus

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

RELATED BY

%d blogger menyukai ini: