Nisan Annemarie

Catatan Abdul Hakim...
Catatan Abdul Hakim
Abdul Hakim alumni Australian Nasional University.

Malam ini menikmati sajian kumpulan puisi ‘Nisan Annemarie’, karya Binhad Nurrohmat tentang kuburan.

Bung, melalui larik-larik dalam puisimu, kita seperti sedang diajak menziarahi sejumlah kuburan mulai dari yang tak bernama hingga para pemikir besar dalam sejarah intelektual.

Dalam kumpulan puisi ini, ‘pusara’, ‘kesendirian’, ‘tanah kelahiran’, bahkan waktu sedang menuju ujung kisah batu nisan.

Batu nisan bisa jadi ujung kisah sebuah perjalanan bisa juga penanda bagi kehidupan setelahnya, karena itu, ‘kisah’ punya ragam makna.

Kematian dan mengingatnya adalah pengalaman yang paling sublim bagi orang beragama atau tidak beragama sekalipun.

Filsuf Jerman terkemuka, Heidegger mempersembahkkan secara khusus karya ‘Sein und Zeit’ (Ada dan Waktu) untuk membahas misteri kematian, suatu kesadaran akan masa depan, menghantui sekaligus mencemaskan.

Ia bertolak dari pandangan mengenai fakta keterarahan pada kematian yg tidak mungkin dielakkan. “Ketika manusia lahir sejak itu pula ia terlalu tua untuk mati,” katanya suatu kali.

Mungkin ini pula yang seringkali menjadi alasan ilmiah untuk menjelaskan mengapa manusia beragama, argumen ini juga acapkali dikemukakan oleh mereka yang skeptis, bagaimana agama itu bermula?

Iya agama bermula dari misteri kematian yang sublim, sekaligus mencemaskan. Bahkan kitab suci, dalam banyak tempat, juga ikhtiar untuk menjawab misteri ini: pahala dan dosa, hari pengadilan, surga dan neraka, kesalehan dan kejahatan, luka dan nestapa hidup.

Di dalam terang kematian itu pula manusia membayangkan sebuah kehidupan di seberang sana.

Di dalam sejarah evolusi manusia dari waktu ke waktu, juga berbagai tempat, kisah kematian turut membentuk makna kehidupan, pandangan dunia, dan bahkan konstruksi atas kebudayaan: ilmu pengetahuan, seni, bahasa juga sejarah.

Melalui misteri kematian atau kisah batu nisan dalam bahasa Binhad, jejak dan cerita masa lalu para leluhur tersingkapkan lapisan-lapisanya.

Mereka yang menekuni meditasi kosmik, menyebut lapisan sejarah para leluhur itu terekam dengan baik dalam ‘file tulang Sulbi'”.

Ia serupa lorong waktu, rekaman data itu bisa disingkapkan agar kita bisa memahami tugas dan panggilan hidup.

Karena itu tidak mengherankan bila setiap munajat dimulai dengan tindakan ‘menyapa’ para leluhur atau orang-orang saleh, dalam istilah kaum sufi disebut dengan ‘khadarat’ (حضرة).

Sebuah sikap yang menegaskan konektivitas antara dunia yang di sini dengan dunia yang di sana, antara yang lahir dan batin, sebuah jembatan yang memungkinkan tersambungnya ada dan tiada.

Di dalam perjumpaan dengan batu nisan: ada dramaturgi, transmisi pesan, keterpautan dan keterputusan masa kini dan masa lalu, rasa keberakaran, yang historis dan mitis berkelindan.

Batu nisan adalah alamat di mana hidup manusia berakhir dalam kesunyian dan orang ramai akan segera melupakan atau mengenang jejak yang ditinggalkannya.(**)

Bambu Apus, 22 Maret 2020

Categories
Features

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

RELATED BY

  • Catatan Abdul Hakim

    Beragama Perlu Ilmu

    Nasihat Mursyid Tarekat untuk Pencegahan Covid-19....
  • Semua Karena Cinta

    Cinta bukanlah kelemahlembutan atau kemurahan hati, atau apa saja dari kebaikan-kebaikan yang diberikan atau tidak diberikan dengan panjang lebar. Cinta adalah membagi, memahami, memberikan kebebasan, menjawab panggilan. Dan cinta...
  • Glyphosate Coffee

    Namanya keren ya? Jangan mudah tergoda. Sebab glyphosate atau glifosat adalah nama senyawa kimia yang beracun. Senyawa itu sekarang bikin heboh. Konon ditemukan di Kopi Gayo. Benarkah? Ini lampu...
  • Historiamu

    Ide bisnis bisa muncul di mana saja. Saat bertemu siapa saja. Mas Agus Yulianto, direktur Baitul Tamwil Muhammadiyah (BTM) datang ke studio saya, Minggu sore. Ia ingin ngopi.Merasakan seduhan...
%d blogger menyukai ini: