Pilkada dan Kesalehan Artifisial

Catatan Dadang A Sujatnika...
Pencitraan diri
ILUSTRASI Personal Branding/NET

Menelusuri ruas jalan protokol, seperti memanjakan mata setelah sekian lama lockdown di rumah saja. Di kanan kiri jalan sudah mulai ramai, toko-toko sudah ada yang buka dan masyarakat pun asyik berbelanja.

Tapi yang paling menarik tentu poster-poster besar para calon kepala daerah. Dengan berbagai gaya, mereka tampak ramah dengan senyum yang terkembang dan jargon-jargon yang mereka percayai bakal mengundang simpati.

Pakaiannya pun bermacam-macam. Ada yang bersorban, ada pula yang berkopeah haji. Semua disajikan tentu saja untuk menarik perhatian pengguna jalan yang melintas, khususnya warga yang punya hak pilih.

Tapi jika diperhatikan gambar-gambar yang terpampang itu dengan realita yang sebenarnya, tentu saja tidak semuanya berbanding lurus. Sebab, sesoleh apapun tampilan di gambar itu, tidak serta merta membuat citra soleh itu sendiri.

Terlebih jika pribadi yang muncul di poster bak orang yang paling soleh itu, diketahui oleh publik tidak sesoleh itu perangainya di kehidupan nyata.

Saya teringat dengan sebuah pepatah Arab yang popular di kalangan santri. “Jika seseorang tidak cacat perangainya, maka mengenakan baju apapun dia akan terlihat indah”.

Adagium lama itu sekaligus memberikan arti bahwa sesoleh apapun yang ingin diperlihatkan melalui gambar yang ditampilkan, kalau perangainya buruk dalam kehidupan nyata, maka pakaian seperti apapun tidak akan terlihat baik.

Pendek kata, kesalehan yang diperlihatkan para calon kepala daerah dalam gambarnya adalah kesalehan artifisial alias kesalehan yang dipaksakan. Dan biasanya, sesuatu yang dipaksakan akan tidak bagus akhirnya.

Pencitraan diri atau personal branding itu perlu mensejajarkan antara what you do and say dengan how people feel. Jika dua hal itu tidak ketemu, maka akan tidak baik hasilnya.

Menurut Psikolog Elizabet Hurlock, personal branding atau pencitraan diri merupakan gambaran seseorang tentang dirinya secara keseluruhan, baik yang tercermin dalam dirinya (seperti kompetensi, karakter, nilai) maupun tampilan luarnya (penampilan, sikap, bahasa tubuh).

Citra diri ini pula yang akan mempengaruhi bagaimana seseorang memandang, bersikap, atau bertindak kepada orang lain. Atau sebaliknya, membentuk penilaian orang lain terhadap dirinya.

Seorang ilmuwan seperti Einstein awalnya sempat diragukan kompetensinya karena penampilannya yang lusuh dan pribadinya yang ‘nyeleneh’. Baru setelah ia menunjukkan prestasi dengan menemukan teori gravitasi, orang pun mengakui dirinya sebagai orang jenius yang hebat. 

Sayangnya tidak semua orang yang memiliki kompetensi dan karakter yang baik mampu menampilkannya di depan publik.

Menurut Indayati, seseorang perlu ‘memasarkan diri’ atau melakukan pencitraan dengan tepat agar tidak menjadi bumerang.

Nah! Dari dua pendapat tadi tentu seseorang yang ingin mempromosikan dirinya melalui gambar, harus menghitung dengan cermat apa yang layak dipromosikan pada dirinya sesuai kompetensinya.

Sebab jika tidak, maka personal branding dengan menghadirkan gambar ingin terlihat sesoleh dan sepositif apapun akan menjadi boomerang jika perangai aslinya diketahui publik tidak sesuai dengan gambar yang tampilkan.

Wallahua’lam….

*Penulis adalah Direktur Yayasan Pinus Indonesia

Categories
Opini

Trusted News Site
No Comment

Leave a Reply

RELATED BY

%d blogger menyukai ini: